Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenaikan BI Rate Diklaim Tarik Modal Asing US$8,5 Miliar ke RI
Ilustrasi Gambar Gedung Bank Indonesia , Sumber : Website Bank Indonesia-Publikasi Ruang Media
  • BI menyatakan kenaikan BI-Rate 100 bps pada Mei-Juni 2026 membantu stabilitas pasar dan rupiah, sekaligus menarik aliran modal asing US$8,5-9 miliar ke SBN dan SRBI.
  • Kebijakan agresif BI merespons ketidakpastian global, termasuk lonjakan harga minyak dan ekspektasi kenaikan bunga The Fed, setelah rupiah sempat melemah hingga Rp18.100 per dolar AS.
  • Yield SBN 10 tahun naik menjadi 7,14 persen pada akhir triwulan II dan 7,29 persen per 30 Juli, sementara investor nonresiden tetap mencatat net-buy di pasar SBN.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei dan Juni 2026 sukses menjaga stabilitas pasar keuangan domestik. Pengetatan moneter ini memicu aliran modal asing (capital inflow) hingga mencapai US$8,5 miliar hingga US$9 miliar ke pasar keuangan Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global.

Pjs Gubernur BI, Destry Damayanti, mengatakan dampak kenaikan BI-Rate paling terasa pada derasnya inflow ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Lonjakan modal asing tersebut terjadi secara signifikan sepanjang triwulan II-2026.

Langkah moneter ini diambil guna merespons eskalasi risiko global, seperti lonjakan harga minyak dunia, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS (Fed), hingga tekanan pada nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp18.100 per dolar AS.

Di sisi fiskal, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan kinerja pasar SBN tetap terjaga . Pada akhir triwulan II-2026, yield SBN seri benchmark tenor 10 tahun naik 31 bps secara kuartalan (QtQ) ke level 7,14 persen.

Kenaikan yield tersebut dipengaruhi oleh dinamika geopolitik di Timur Tengah yang mendongkrak harga minyak dan memicu kekhawatiran inflasi global, sehingga mendorong investor mengambil sikap risk-off pada pasar SBN.

Meski dibayangi tekanan global, arus investasi nonresiden (asing) di pasar SBN tetap mencatatkan beli bersih (net-buy):

  • Triwulan II-2026: Net-buy investor nonresiden Rp32,09 triliun, sehingga akumulasi net-buy sepanjang 2026 mencapai Rp6,99 triliun.

  • Per 30 Juli 2026: Investor nonresiden mencatatkan net-buy Rp6,36 triliun secara bulanan (MtD) dan Rp13,35 triliun secara tahunan (YtD).

  • Yield SBN Tenor 10 Tahun: Berada pada 7,29 persen per 30 Juli 2026, atau naik 15 bps (MtD) dan 122 bps (YtD).

Kenaikan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun di Indonesia merupakan bagian dari tren global yang juga dialami oleh berbagai negara berkembang (emerging markets) sejak awal tahun:

  • Turki: +524 bps

  • Filipina: +148 bps

  • Brasil: +106 bps

  • Korea Selatan: +92 bps

  • Polandia: +59 bps

  • Afrika Selatan: +55 bps

Curated For You

Editorial Team

Related Article