OCBC Group Prediksi Fed Naikkan Suku Bunga Acuan Desember Mendatang

OCBC Group Research memproyeksikan Fed menaikkan suku bunga acuan 25 bps pada Desember 2026, setelah inflasi AS September mencapai 3,7 persen dan melampaui ekspektasi pasar.
Kenaikan suku bunga global hingga 2027 berpotensi menekan pasar negara berkembang, termasuk arus modal, rupiah, dan biaya pembiayaan; OCBC memperkirakan BI menaikkan bunga sekali pada akhir 2026.
OCBC menyarankan investor menjaga likuiditas serta diversifikasi portofolio menghadapi polycrisis, sambil melihat pertumbuhan jangka panjang Indonesia dan ASEAN; AUM OCBC mencapai Rp374 triliun pada Juni 2026.
Jakarta, FORTUNE – OCBC Group Research memproyeksikan bank sentral Amerika Serikat alias Fed menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) pada Desember 2026.
Chief Economist & Head OCBC Group Research, Selena Ling, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/11), menyatakan arah kebijakan moneter Fed ke depan bergantung pada tren inflasi di Amerika Serikat.
Tingkat inflasi tahunan AS menyentuh 3,7 persen pada September 2026, naik dari posisi Agustus 2026 yang sebesar 3,4 persen, serta melampaui ekspektasi pasar pada level 3,6 persen.
Kondisi tersebut menjadi pendorong bagi Fed mengerek bunga acuan. Sebelumnya, Fed menahan suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen dalam pertemuan FOMC 28 Oktober 2026.
Selena menyebut bank sentral berbagai negara perlu beradaptasi terhadap tren suku bunga tersebut. Peningkatan suku bunga lanjutan hingga 2027 berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar keuangan global, terutama negara berkembang seperti Indonesia.
"Inflasi akan menentukan berapa lama suku bunga bertahan di level tinggi. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi arus modal, nilai tukar, termasuk rupiah, serta biaya pembiayaan bagi perusahaan dan rumah tangga," ujar Selena.
Dari dalam negeri, OCBC memprediksi Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga satu kali pada akhir 2026. BI dinilai memperhitungkan tekanan pasar keuangan yang dominan berasal dari faktor eksternal sebelum mengambil keputusan.
Menghadapi risiko polycrisis, Selena menyarankan investor menjaga likuiditas dan mendiversifikasi portofolio guna memitigasi risiko konsentrasi aset.
Terkait iklim investasi, Wealth Management Advisory Head OCBC Indonesia, Diamond Stole, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia dan kawasan ASEAN dalam jangka panjang berpotensi berlanjut.
“Di OCBC, kami melihat potensi pertumbuhan Indonesia dan ASEAN sebagai peluang jangka panjang bagi nasabah untuk mengembangkan dan mengelola kekayaan (wealth management). Kesiapan menangkap peluang tersebut perlu dibangun sejak sekarang, melalui perencanaan yang matang dan strategi yang dapat beradaptasi seiring perubahan kebutuhan maupun kondisi pasar,” kata Diamond.
OCBC mencatatkan total Asset Under Management (AUM) senilai Rp374 triliun per Juni 2026, tumbuh 13 persen secara tahunan (YoY). Perseroan memadukan advisory personal, kapabilitas digital, serta solusi perbankan bagi berbagai segmen nasabah guna memperkuat bisnis wealth management.




















