Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Tingkat Undisbursed Loan Tinggi, OJK: Debitur Pengusaha Wait and See
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae. (IDN Times/Vadhia Lidyana)
  • OJK mencatat nilai undisbursed loan per Januari mencapai Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari total plafon kredit yang tersedia di perbankan nasional.
  • Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK menjelaskan tingginya angka tersebut disebabkan debitur korporasi yang masih bersikap wait and see sebelum mencairkan fasilitas kreditnya.
  • Dian Ediana Rae menilai kondisi ini wajar dan optimistis penyaluran kredit akan meningkat seiring membaiknya iklim usaha serta strategi baru untuk mendorong pertumbuhan sektor UMKM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Fasilitas kredit yang telah disetujui bank namun belum ditarik oleh nasabah atau undisbursed loan tercatat masih tinggi. Bank Indonesia (BI) mencatat, per Januari 2025, undisbursed loan sebesar mencapai Rp2.506,47 triliun atau 22,65 persen dari plafon kredit yang tersedia.

Menanggapi hal terebut, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengungkapkan tingginya undibursed loan lebih disebabkan oleh debitur korporasi atau pengusaha menahan ekspasi alias wait and see sehingga belum mencairkan kreditnya.

"Mereka itu namanya pebisnis akan melihat peluang, bahwa mereka akan melihat data ekonomi makro, mikro, berbagai aspek lain. Kalau dia (para pengusaha) mau investasi, mau memperluas wisata, mereka tentu melihat kan bagaimana prosesnya seperti apa," ujar Dian usai acara The 2 Indonesia Climate Banking Forum, Kamis (26/2).

Nenurutnya kondisi ini normal terjadi dari tahun ke tahun. Namun yang terpenting, persetujuan kredit yang sudah ditandatangani mencerminkan adanya rencana dan target bisnis yang berpotensi terealisasi ke depan, seiring membaiknya iklim usaha.

"Harapan kita tentu saja kondisi global mudah-mudahan semakin baik, dan kemudian kondisi domestik juga semakin membaik. Dan kita harapkan nanti kredit ini akan lebih ekspansif," ujar Dian.

Hinga bulan lalu, debitur korporasi mengalami peningkatan signifikan. Sementara sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), masih perlu dorongan agar pertumbuhannya optimal.

"ini kan belum kelihatan sekarang. (Tapi) kita punya strategi-strategi baru yang nanti mudah-mudahan akan kelihatan dalam waktu beberapa bulan ke depan," pungkasnya.

Berdasarkan kelompok penggunaan, perkembangan penyaluran kredit didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh sebesar 22,38 persen (yoy), 4,13 persen (yoy), dan 6,58 persen (yoy).

Editorial Team

EditorEkarina .