Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Potensi Emas Digital Global Capai US$700 Miliar, Tingkat Kesadaran Emas RI Tertinggi
ilustrasi emas batangan (Pexels.com/Michael Steinberg)
  • Riset WGC dan BCG memproyeksikan pasar emas digital global berpotensi mencapai US$700 miliar dalam jangka panjang, dari kisaran US$45 miliar-US$55 miliar saat ini.
  • Indonesia mencatat tingkat kesadaran emas digital tertinggi, 76 persen; sekitar lima juta nasabah telah bertransaksi melalui lembaga seperti Pegadaian dan BSI.
  • Skenario dasar memperkirakan pasar tumbuh 27 persen per tahun menjadi US$170 miliar pada 2031, atau US$280 miliar bila hambatan infrastruktur lebih cepat teratasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Riset World Gold Council (WGC) dan Boston Consulting Group (BCG) yang dipublikasikan pada Selasa (20/10) memproyeksikan nilai pasar emas digital global berpotensi menembus US$700 miliar pada jangka panjang, berekspansi dari posisi saat ini yang berkisar US$45 miliar-55 miliar.

Proyeksi pertumbuhan tersebut ditopang oleh permintaan laten (latent demand) dari investor ritel. Sembilan dari 10 responden survei menyatakan kesediaan mempertimbangkan instrumen emas digital dengan prasyarat ketersediaan ekosistem pendukung.

Riset ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesadaran (awareness) tertinggi, yakni 76 persen dibandingkan 11 negara lain.

Secara global, instrumen emas digital beragun fisik (vaulted digital gold) mendominasi 89 persen total pasar. Tiongkok, India, dan Indonesia mencatatkan lebih dari separuh porsi kepemilikan pada segmen ini.

Di Indonesia, sekitar lima juta nasabah telah bertransaksi emas digital melalui fasilitas lembaga keuangan seperti Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Ketersediaan akses melalui super-app, platform pembayaran, serta aplikasi perbankan di Tiongkok, India, dan Indonesia membuat proporsi kepemilikan investor di ketiga negara tersebut tujuh kali lipat lebih banyak dibandingkan pasar negara lain.

Chief Executive Officer WGC, David Tait, menyatakan penyerapan instrumen ini memerlukan dukungan infrastruktur seperti inisiatif Gold as a Service.

“Besarnya minat investor terhadap emas digital sudah terlihat jelas, tetapi permintaan tersebut tidak akan dapat berkembang tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Inilah peran yang ingin diwujudkan melalui Gold as a Service,” kata Tait melalui keterangan resmi di Jakarta, Selasa (20/10).

Dalam lima tahun ke depan, riset menetapkan skenario dasar pertumbuhan tahunan sebesar 27 persen yang akan membawa nilai pasar menjadi US$170 miliar pada 2031. Nilai ini berpeluang mencapai US$280 miliar pada periode yang sama jika hambatan infrastruktur terselesaikan lebih awal.

Di luar segmen vaulted digital gold, segmen emas berbasis tokenisasi (tokenised gold) mengalami ekspansi nilai lima kali lipat menjadi US$6 miliar terhitung sejak akhir 2024.

Volume perdagangan spot kumulatif segmen tokenisasi ini membukukan angka melampaui US$90 miliar pada kuartal pertama 2026.

Managing Director dan Partner BCG, Urs Rahne, menilai kepemilikan fisik memosisikan emas sebagai aset dasar dalam transformasi digital pasar keuangan.

“Emas berpotensi menjadi aset digital paling tepercaya di dunia karena emas memiliki wujud fisik yang nyata. Hasil riset ini semakin memperkuat keyakinan kami terhadap besarnya peluang tersebut sekaligus memperjelas langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan potensi tersebut secara optimal,” ujar Rahne.

Curated For You

Editorial Team

Related Article