Jakarta, FORTUNE – Perekonomian Indonesia diproyeksikan mencapai 5,2 persen pada 2026 di tengah ketidakpastian global. Chief Economist & Head OCBC Group Research, Selena Ling, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (3/11), menyatakan pencapaian tersebut ditopang oleh permintaan domestik, konsumsi rumah tangga, dan investasi.
Konsumsi rumah tangga dan investasi menjadi penopang perekonomian di tengah ketidakpastian perdagangan dan keuangan.
“Pengembangan industri dan infrastruktur digital juga menghadirkan peluang jangka panjang,” kata Selena.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) Indonesia tumbuh 6,87 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Peningkatan belanja modal pemerintah dan investasi swasta menopang capaian tersebut.
Pertumbuhan ini juga didorong penambahan investasi bangunan sebesar 6,6 persen (YoY) seiring berjalannya aktivitas konstruksi jalan, irigasi, dan jaringan.
Ketahanan industri perbankan nasional pun terjaga. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan Capital Adequacy Ratio (CAR) industri mencapai 24,1 persen dan rasio Non Performing Loan (NPL) bruto 2,1 persen per Agustus 2026.
Selena mengimbau investor mewaspadai tantangan geopolitik dan harga energi yang berpotensi memengaruhi biaya impor, distribusi, serta daya beli masyarakat.
“Para investor perlu memantau inflasi AS, arah suku bunga, serta risiko geopolitik yang dapat memengaruhi arus modal dan biaya pendanaan,” ujarnya.
Peluang pertumbuhan negara kawasan ASEAN bersumber dari manufaktur di Vietnam, elektronik dan infrastruktur digital di Malaysia serta Singapura, serta pasar domestik dan pengembangan industri di Indonesia.
Pada sektor wealth management, investor perlu menjaga fleksibilitas dengan mengukur peluang pasar, likuiditas, profil risiko, jangka waktu investasi, dan tujuan finansial. OCBC memperkuat kapabilitas wealth management melalui perpaduan advisory, kapabilitas digital, serta solusi bagi nasabah.