Jakarta, FORTUNE - Lembaga pemeringkat, S&P Global Ratings, memproyeksikan tekanan margin para bank himbara meningkat dalam setahun ke depan akibat pertumbuhan kredit yang pesat.
Per 30 Juni 2026, S&P mencatat, rata-rata kredit bank himbara bertumbuh 26 persen (YoY). Pertumbuhan kredit itu lebih tinggi dibandingkan perkiraan ataupun panduan manajemen.
"Pertumbuhan [kredit bank himbara] sebagian besar didorong oleh partisipasi bank dalam program ekonomi terkait pemerintah serta peningkatan penyaluran kredit kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN)," catat Analis S&P Global Ratings, Nikita Anand, Ivan Tan, dan Geeta Chugh dalam riset bertajul 'Indonesia Brief: State-Owned Banks Face Margin Hit From Rapid Credit Growth', dikutip Rabu (16/9).
Hal itu berhubungan dengan suntikan likuiditas Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kepada bank-bank pelat merah demi membantu pendanaan program koperasi desa.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit industri hanya 12 persen (YoY). Kredit bank swasta bahkan hanya naik 1 persen (YoY). Hal tersebut menunjukkan perlambatan pada kredit consumer, khususnya kredit kendaraan dan kredit konsumen tanpa agunan, serta tingginya biaya pendanaan.
Sejalan dengan pertumbuhan kredit pesat para bank himbara, suku bunga meningkat. Penyesuaian harga (repricing) pada kredit pun terjadi lebih cepat pada pinjaman grosir (wholesale loans), yang suku bunganya dinegosiasi secara individual.
Akibatnya, terjadi penyempinan margin setiap kali suku bunga naik. S&P Global Ratings memperkirakan margin bunga bersih (Net Interest Margin) perbankan dapat menurun 10 hingga 20 basis poin dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.
Oleh karena itu, analis S&P Global Ratings memproyeksikan bank-bank itu akan berupaya mengelola tekanan margin dengan menurunkan biaya pendanaan, mendiversifikasi pendapatan, serta memprioritaskan pertumbuhan yang lebih berkualitas.
"Modal yang kuat dan bantalan keuangan yang memadai diharapkan dapat meredam dampaknya," tulis Anand, Tan, dan Chugh. Rasio modal bank tier 1 diperkirakan berada di kisaran 16 persen sampai 20 persen.
Di antara para bank besar, proporsi pinjaman berisiko terhadap total pinjaman dinilai telah menurun. Itu karena perbaikan dalam proses underwriting dan pengendalian risiko, serta percepatan penghapusan buku pinjaman lama bermasalah (legacy weak loans), khususnya di sektor pembiayaan mikro.
Ke depan, kualitas aset dari pinjaman yang disalurkan kepada para BUMN akan lebih jelas terlihat di beberapa kuartal mendatang. "Ini menjadi poin yang perlu dicermati karena adanya risiko konsentrasi yang tinggi," kata Tim Riset S&P Global Ratings.
