Ditopang Segmen Properti & Hotel, Suryacipta (SSIA) Raup Pendapatan Rp4,80 T

SSIA membukukan pendapatan konsolidasian Rp4,80 triliun hingga September 2026, tumbuh 44,7 persen secara tahunan.
Segmen properti dan perhotelan tumbuh signifikan, sementara pendapatan konstruksi turun akibat perlambatan pengakuan pendapatan.
Laba bersih meningkat, tetapi posisi kas menurun karena kebutuhan pendanaan untuk akuisisi dan pengembangan lahan di Subang Smartpolitan.
Jakarta, FORTUNE - Emiten properti dan kawasan industri, PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) membukukan pendapatan konsolidasian mencapai Rp4,80 triliun hingga September 2026, melonjak 44,7 persen secara tahunan.
Berdasarkan segmen bisnis, lini properti memberikan kontribusi terbesar terhadap pendapatan SSIA sekitar Rp1,48 triliun, melonjak 172,2 persen dibandingkan Rp545 miliar pada September tahun lalu.
Segmen perhotelan juga mencatatkan pertumbuhan signifikan, dengan realisasi pendapatan mencapai Rp940,9 miliar atau meningkat 161,2 persen secara tahunan.
Sementara itu, segmen konstruksi justru mengalami penurunan pendapatan menjadi Rp2,51 triliun dari sebelumnya Rp2,65 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh perlambatan pengakuan pendapatan akibat perolehan kontrak baru yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
VP of Investor Relations & Sustainability SSIA, Erlin Budiman mengatakan, dengan kinerja tersebut perseroan membukukan pertumbukan profit. Laba kotor menjadi Rp1,58 triliun hingga September 2026, naik 113,9 persen dibandingkan Rp739,3 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, laba bersih SSIA melonjak menjadi Rp344,4 miliar dari sebelumnya Rp6,46 miliar pada September 2025.
"EBITDA SSIA tetap menunjukkan kinerja yang solid pada 9M26, mencapai Rp951,5 miliar atau setara dengan margin EBITDA sebesar 19,8 persen, dibandingkan Rp256,7 miliar dengan margin EBITDA sebesar 7,7 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya," kata Erlin dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (5/11).
Erlin menyebut posisi kas perseroan mengalami penurunan akibat kebutuhan pendanaan untuk akuisisi lahan dan biaya pengembangan lahan di Subang Smartpolitan. Hingga September 2026, tercatat sebesar Rp928,9 miliar atau turun 15 persen dibandingkan posisi Juni 2026 sebesar Rp1,09 triliun
Sementara itu utang berbunga perseroan tercatat sebesar Rp2,24 triliun, turun 1,2 persen dibandingkan Rp2,27 triliun pada Juni 2026. Sementara itu, rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) SSIA berada di level 26 persen.




















