FINANCE

OJK Ungkap Sejumlah Sektor Kredit yang Masih Moncer di 2024

Perbankan optimis kredit tumbuh double digit di 2023.

OJK Ungkap Sejumlah Sektor Kredit yang Masih Moncer di 2024Ilustrasi rupiah

by Suheriadi

12 December 2023

Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Dian Ediana Rae optimis penyaluran Kredit perbankan masih dapat terus mendukung perekonomian nasional di tahun 2024 mendatang. 

Dian bahkan menyampaikan sejumlah sektor kredit yang masih akan berpotensi tumbuh kuat di 2024. "Segmen yang berpotensi menjadi penggerak penyaluran kredit perbankan pada 2024 adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Segmen ultramikro berpotensi mendorong kredit perbankan seperti garmen hingga makanan," kata Dian melalui jawaban tertulis yang dikutip di Jakarta, Selasa (12/12).

Perbankan masih optimis bidik pertumbuhan kredit double digit di 2023

Kawasan SCBD Senayan/Shutterstock N Rudianto

Di sisi lain, berdasarkan Rencana Bisnis Bank (RBB) 2023 yang disampaikan pada Juni 2023, kredit diperkirakan masih melanjutkan pertumbuhan double digit hingga akhir tahun. Namun demikian, DPK diperkirakan masih akan tetap tumbuh meski lebih rendah dari pertumbuhan kredit. 

Dian menjelaskan, sektor ekonomi yang menjadi pendorong pertumbuhan kredit hingga Oktober 2023 antara lain sektor perantara keuangan sebesar 22,90 persen (yoy); transportasi, pergudangan dan komunikasi sebesar 14,30 persen (yoy); pertambangan dan penggalian 15,23 persen (yoy), jasa kemasyarakatan, sosial budaya, hiburan dan perorangan lainnya 35,27 persen (yoy), serta real estate, usaha persewaan, dan jasa perusahaan 13,86 persen (yoy). 

Dari sisi rumah tangga, kredit pemilikan rumah tinggal juga meningkat sebesar 12,61 persen yoy dan menjadi salah satu kontributor pertumbuhan kredit terbesar. Di sisi lain, OJK melihat kondisi likuiditas bank masih sangat memadai. OJK juga tidak melihat adanya kondisi likuiditas perbankan yang ketat.