Comscore Tracker
FINANCE

Oxford Economics Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 6% Tahun Ini

Ekonomi kawasan Asia Tenggara akan pulih di 2022.

Oxford Economics Ramal Pertumbuhan Ekonomi RI Capai 6% Tahun IniShutterstock/Miha Creative

by Suheriadi

Jakarta,FORTUNE - Oxford Economics memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia bisa tumbuh sebesar 6 persen di tahun 2022. Meski demikian, angka ini berada di bawah proyeksi ekonomi di negara Asia Tenggara lain yakni Malaysia dengan 6,7 persen dan Filipina dengan 6,8 persen. 

Dalam laporan Oxford Economics, tingkat kesadaran masyarakat dan vaksinasi Covid-19 akan memainkan peran kunci dalam menentukan pemulihan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Selain itu, konsumsi sektor rumah tangga juga diperkirakan akan berkontribusi mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pembatasan sosial berpotensi tekan ekonomi RI 0,3% di 2021

Masih dari laporan yang sama, Oxford Economics menilai pembatasan aktivitas masyarakat yang berlangsung pada Juli hingga Agustus 2021 lalu sangat membebani pertumbuhan PDB Indonesia. 

Pembatasan tersebut diperkirakan memengaruhi kontraksi PDB sebesar 0,3 persen qtq (quarter-to-quarter) di akhir 2021. Meskipun terjadi penurunan, Oxford Economics juga memperkirakan pemulihan yang cukup kuat pada sektor rumah tangga, khususnya pada konsumsi privat dan publik. 

Selain itu, data juga menunjukkan bahwa investasi diperkirakan akan pulih lebih cepat dengan meningkatnya Foreign Direct Investment (FDI) atau investasi asing langsung serta didukung oleh upaya pemerintah ini untuk mendorong bisnis.

Ekonomi kawasan Asia Tenggara akan pulih di 2022

Bagaimanapun, secara wilayah Oxford Economics memperkirakan kawasan Asia Tenggara akan mengalami pemulihan ekonomi di 2022 

Sian Fenner selaku Oxford Economics Lead Asia Economist menilai, gelombang pandemi Covid-19 pada tahun 2021 terlihat lebih besar dibandingkan dengan tahun 2020. Hal ini  memperlambat laju pemulihan ekonomi di kawasan dan berdampak pada keputusan untuk meningkatkan pembatasan. 

"Akibatnya, tingkat PDB di kawasan (Asia Tengara) saat ini masih berada di antara 4 hingga 6 persen atau lebih rendah dari sebelum pandemi. Namun, prospek untuk 2022 tetap positif dengan adanya pelonggaran pembatasan dan percepatan vaksinasi Covid-19," kata Sian melalui keterangan resminya di Jakarta, Jumat (7/1). 

Lebih lanjut Sian mengatakan, kembali dibukanya perbatasan antarnegara akan mendorong pertumbuhan ekspor yang lebih cepat. Hal ini termasuk untuk negara-negara yang sangat bergantung pada pariwisata. 

Varian Omicron jadi pertimbangan IMF Pangkas Proyeksi ekonomi

Sementara itu, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) bakal merilis laporan Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Outlook) pada 25 Januari 2021. 

Juru bicara IMF Gerry Rice mengatakan, rilis laporan prospek ekonomi global tersebut sedikit terlambat karena memperhitungkan perkembangan Covid-19 terbaru. Terlebih, saat ini varian baru omicron telah menyebar di seluruh dunia.  

"Prospek Ekonomi Dunia terbaru akan diluncurkan pada 25 Januari untuk memungkinkan tim kami memasukkan perkembangan terbaru terkait pandemi COVID-19 ke dalam perkiraan ekonomi," kata Gerry seperti dikutip dari Reuters, Rabu (5/1).

Sebelumnya, pada Oktober 2021 IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global bisa mencapai 4,9 persen pada 2022. 

Related Articles