Jakarta, FORTUNE – Aktivitas belanja masyarakat Indonesia tumbuh 5,9 persen dalam setahun (YoY) ke level 123,0 pada Juni 2026, kendati kapasitas menabung mengalami penurunan.
Laporan Mandiri Spending Index (MSI) bertajuk ‘Dinamika Belanja Masyarakat, Tabungan, dan Pinjaman’ yang dirilis pada akhir Juli 2026 mengindikasikan konsumsi masyarakat kian ditopang oleh pemanfaatan sarana pembiayaan dan pinjaman.
Namun, indeks menabung masyarakat justru terkontraksi 5,7 persen (YoY) menjadi 84,8. Kondisi ini memperlihatkan adanya pelemahan simpanan di tengah aktivitas konsumsi yang tetap positif.
“Bersamaan dengan itu, penggunaan pembiayaan meningkat,” demikian laporan yang dilansir dari Daily Economic and Market Office of Chief Economist Bank Mandiri.
Sejalan dengan melemahnya tingkat tabungan, indeks pinjaman—yang mencakup fasilitas pinjaman online (pinjol) hingga kartu kredit—melonjak tajam 24,6 persen (YoY) hingga menyentuh 157,7. Mayoritas masyarakat menarik pinjaman berbasis digital tersebut guna membiayai kebutuhan konsumsi rumah tangga.
Dominasi penggunaan pinjaman untuk sektor konsumtif ini juga diperkuat oleh data Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Porsi pinjaman online untuk kebutuhan konsumtif melonjak menjadi 86 persen pada April 2026. Angka ini naik bertahap dari 78 persen pada April 2025 dan 68 persen pada April 2024.
Sebaliknya, porsi pinjaman yang disalurkan untuk kegiatan produktif terus bergeser turun hingga tersisa 14 persen pada 2026.
“Pergeseran ini menunjukkan kenaikan pinjaman lebih banyak didorong oleh kebutuhan konsumsi rumah tangga, sementara permintaan pembiayaan untuk aktivitas usaha menjadi lebih terbatas,” demikian laporan tersebut.
Secara akumulatif, OJK menyatakan outstanding pembiayaan yang disalurkan industri pinjaman online telah mencapai Rp105,14 triliun pada Juni 2026, atau bertumbuh 25,88 persen (YoY).
Meskipun laju pembiayaan konsumtif bergerak tinggi, OJK memastikan tingkat risiko kredit bermasalah masih berada dalam kondisi aman. Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK, Agusman, menyatakan rasio kelalaian tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) industri pinjaman daring menunjukkan tren melandai.
“TWP90 industri pinjaman daring di posisi 4,26 persen pada Juni 2026, sedikit turun bila dibandingkan dengan posisi Mei 2026 sebesar 4,42 persen,” kata Agusman.
