Jakarta, FORTUNE — Bank Indonesia (BI) melaporkan Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) masih dalam tren tumbuh 14,03 persen (YoY) menjadi Rp1.315 triliun pada triwulan II-2026.
Hal ini mencerminkan masih tingginya kebutuhan akan uang tunai di tengah pesatnya digitalisasi sistem pembayaran.
Deputi Gubernur BI, Ricky P. Gozali, mengatakan rupiah berperan tidak hanya sebagai alat pembayaran, tetapi juga menjadi instrumen strategis yang menggerakkan perekonomian.
“Tidak hanya di uang tunai, rupiah juga berdaulat sebagai satuan nilai dalam ekosistem pembayaran digital," demikian Ricky saat membuka Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026 di Jakarta, Jumat (14/8).
Pada kesempatan sama, Asisten Gubernur, Kepala Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Anwar Bashori, menyatakan bank sentral masih terus memproduksi uang pecahan kecil atau koin. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama saat hari besar keagamaan.
“Karena tidak semua transaksi-transaksi itu dengan uang besar. Kadang uang kecil di Pulau Jawa lebih gampang didapatkan dan mulai berganti digital. Tapi di tempat lain, itu masih menggunakan uang kecil, harus kita siapkan untuk penukaran di pasar tradisional yang mungkin tidak terjangkau harus kita penuhi,” kata Anwar.
Pada momentum ini, BI juga menyampaikan apresiasi kepada para mitra atas dukungannya terhadap program pengelolaan limbah racik uang yang meraih penghargaan Best New Environmental Project dari International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026.
Melalui program tersebut, BI bekerja sama dengan industri yang membutuhkan tambahan pasokan energi, serta UMKM yang dapat mengolah kembali limbah uang menjadi produk bernilai ekonomi.
FERBI 2026 berlangsung selama tiga hari, 14–16 Agustus 2026. Gelaran itu dapat menjadi wadah bagi masyarakat untuk kiqn mengenal perjalanan rupiah, memahami pentingnya menjaga kualitas dan integritas rupiah, serta melihat berbagai inovasi pengelolaan uang rupiah yang modern dan berkelanjutan.
