Bundamedik (BMHS) Bidik Pertumbuhan Double Digit pada 2026

- BMHS bidik pertumbuhan pendapatan double digit pada 2026.
- Perseroan menetapkan strategi melalui maksimalisasi utilitas aset lama dan penambahan kapasitas tempat tidur hingga 2027.
- Industri kesehatan Indonesia bergerak ke fase yang makin matang dan selektif.
Jakarta, FORTUNE - PT Bundamedik Tbk (BMHS), emiten penyedia layanan kesehatan, membidik pertumbuhan pendapatan double digit pada 2026, bersamaan dengan upayanya tetap menjaga profitabilitas dan arus kas sehat.
Presiden Direktur PT Bundamedik Tbk, Agus Heru Darjono, menyatakan perseroan telah menetapkan strategi meraih target tersebut, yakni melalui maksimalisasi utilitas aset lama, termasuk penambahan kapasitas tempat tidur secara bertahap hingga 2027.
“Kami melihat 2026 sebagai momentum untuk mengonsolidasikan pertumbuhan yang sehat,” ujar Agus dalam keterangan resmi, Rabu (28/1).
Di sisi lain, industri kesehatan juga dihadapkan pada tantangan untuk tetap tumbuh secara berkelanjutan di tengah peningkatan biaya operasional dan kebutuhan investasi jangka panjang. Dalam konteks ini, efisiensi, optimalisasi aset, serta disiplin keuangan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan antara ekspansi dan keberlanjutan bisnis.
Memasuki 2026, BMHS memandang industri kesehatan Indonesia bergerak menuju fase yang makin matang dan selektif.
Pertumbuhan tidak lagi semata didorong oleh ekspansi agresif atau peningkatan volume pasien, melainkan oleh kemampuan pelaku industri dalam menjaga kualitas layanan, keselamatan pasien, serta keberlanjutan jangka panjang.
Sejalan dengan arah tersebut, pemerintah juga terus memperkuat sektor kesehatan melalui peningkatan alokasi anggaran dalam APBN 2026 yang ditujukan untuk mendukung berbagai program nasional, termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), cek kesehatan gratis, revitalisasi fasilitas layanan, serta penanganan isu kesehatan prioritas.
Dukungan kebijakan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan akses dan keterjangkauan layanan kesehatan secara bertahap, sekaligus mengakselerasi kesiapan penyedia layanan kesehatan untuk terus meningkatkan kapabilitas klinis dan kualitas layanan dalam ekosistem kesehatan nasional yang semakin terintegrasi.
Selain penguatan layanan, BMHS memandang transformasi industri kesehatan harus ditopang oleh pengembangan keilmuan dan praktik berbasis bukti.
“BMHS tidak hanya berfokus pada perluasan kapasitas, tetapi juga pada pengembangan layanan yang terintegrasi, berkesinambungan, dan relevan dengan kebutuhan kesehatan keluarga di setiap fase kehidupan,” ujar Agus.
Merujuk pada laporan keuangan perseroan, BMHS membukukan peningkatan laba bersih menjadi Rp12,24 miliar pada kuartal III-2025. Angka tersebut merupakan kenaikan 3,85 persen dalam setahun (YoY) jika dibandingkan dengan capaian pada periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp11,79 miliar.
Meski demikian, berdasarkan laporan keuangan, pendapatan perseroan turun tipis 0,18 persen (YoY) menjadi Rp1,15 triliun pada kuartal III-2025. Hal ini disebabkan oleh beban usaha yang turun 0,75 persen (YoY) menjadi Rp468,75 miliar.












