Jakarta, FORTUNE - Emiten pemilik JEC Eye Hospitals and Clinics, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), berencana mengakselerasi ekspansi setelah debut saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satu fokus investasinya: pembangunan JEC BALI di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), Sanur, Bali.
Presiden Direktur JECX, DR. Dr. Johan A. M. M. Hutauruk, Sp.M(K), mengatakan, lokasi tersebut dipilih karena potensinya menjadi titik medical tourism, sehingga berpeluang menjaring pasien domestik dan mancanegara.
"Bulan depan kami akan dirikan lagi dua klinik yang sudah siap, termasuk dalam rencana itu kami menyiapkan di KEK Sanur," kata Johan dalam konferensi pers setelah seremoni pencatatan saham JECX, Selasa (7/7).
Saat ini, JEC Eye Hospitals memiliki 5 rumah sakit spesialis mata dan 11 klinik utama yang tersebar di berbagai wilayah, meliputi: Jadetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, hingga Sulawesi.
Melalui ekspansi pada 2026, JECX memproyeksikan dapat meraih pendapatan sekitar Rp900 miliar hingga Rp1 triliun tahun ini. Selaras dengan itu, laba bersih diproyeksi dapat mencapai Rp320 miliar.
"Untuk laba bersih, ini tergantung bagaimana kami memonitor dan mengendalikan biaya," kata Direktur Keuangan JEC Group, Budi Djatmiko saat ditemui di gedung BEI. "Ada kemungkinan pasien menunda tindakan medis, misal baru direalisasikan tahun depan, tetapi pemeriksaannya tetap dilakukan tahun ini. Hal-hal seperti ini bisa memengaruhi naik-turunnya kinerja keuangan."
Percepatan ekspansi perseroan didukung oleh pendanaan melalui IPO. Melalui aksi tersebut, JECX menawarkan 487,98 juta saham biasa atau 15 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Itu terdiri dari 325,32 juta saham baru (10 persen) dan 162,66 juta saham divestasi milik DR. Dr. Waldensius Girsang, SpM(K) (5 persen). Harga penawarannya Rp1.250 per saham.
Lewat IPO itu, JECX mengantongi dana sebesar Rp609,98 miliar, yang mencakup Rp406,65 miliar dari penerbitan saham baru dan hampir Rp203,33 miliar dari penjualan saham divestasi.
Sepanjang masa penawaran umum, JECX mencatatkan kelebihan permintaan atau oversubscribed 62,5 kali pada porsi penjatahan terpusat, dengan jumlah pemesan mencapai 555.699 investor.
