IHSG Diperkirakan Bergerak Terbatas di Tengah Sikap Wait & See Pasar

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melemah terbatas pada perdagangan Kamis (18/6), setelah ditutup turun 0,55 persen di level 6.220,7 kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, aksi profit taking dan sikap wait and see investor mendominasi pasar menjelang sejumlah agenda penting. Mulai dari keputusan The Fed, RDG Bank Indonesia, MSCI Global Market Accessibility Review, rebalancing FTSE, hingga MSCI Annual Market Classification Review. Sentimen tersebut turut menekan rupiah yang melemah ke Rp17.762 per dolar Amerika Serikat (AS).
Reza menyebut, hari ini pasar akan mencermati hasil keputusan The Fed yang diperkirakan menahan suku bunga serta RDG Bank Indonesia yang diproyeksikan menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen. "Hasil kedua agenda tersebut akan menjadi penentu arah rupiah, arus dana asing, dan sentimen pasar dalam jangka pendek," katanya dalam riset harian.
Secara teknikal, IHSG berpotensi bergerak melemah terbatas dan cenderung konsolidatif dengan area support 6.071–5.931 dan resisten antara 6.300–6.350. Reza menilai, selama bertahan di atas area support, tren rebound menengah masih terjaga meskipun volatilitas diperkirakan meningkat menjelang berbagai agenda pasar pekan ini.
Hari ini, tim BRIDS menyoroti saham-saham berikut ini: NCKL, MDKA, dan SMIL.
Senada dengan Reza, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji, mengatakan, pergerakan IHSG diperkirakan menguat terbatas setelah membentuk pola bearish pin bar. Sementara itu, indikator Stochastics K_D dan RSI masih menunjukkan sinyal positif, namun indikator volume mulai menurun.
Menurutnya, fokus utama para pelaku pasar global tertuju pada hasil pertemuan FOMC The Fed terkait Keputusan Fed Rate serta FOMC Economic Projections. Di bawah Ketua The Fed yang baru yakni Kevin Warsh, FOMC memutuskan untuk mempertahankan Fed Rate di level 3,75 persen.
Berdasarkan proyeksi Fed Funds Rate per Juni 2026 ini, adapun median mengalami kenaikan menjadi 3,8 persen dari 3,4 persen per Maret 2026 sebelumnya untuk 2026 ini, yang mengisyaratkan adanya peluang kenaikan Fed Rate sebesar 25 bps untuk tahun ini, yakni di Desember 2026, sehingga arah kebijakan The Fed ini masih dipandang hawkish oleh kalangan pelaku pasar.
Beralih ke Timur Tengah, harapan akan kesepakatan perdamaian mengalami sedikit kemunduran setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa AS dapat melanjutkan serangan terhadap Iran apabila Iran tidak mengindahkan kesepakatan tersebut. Sebagai konteks, Washington dan Teheran akan membuka diplomasi baru di Swiss pada Jumat, 19 Juni 2026 dalam rangka menandatangani kesepakan perdamaian dalam bentuk MOU ini.
Sementara itu, para pelaku pasar tengah mengantisipasi pengumuman dari MSCI dimana probabilitas downgrade dari Emerging Market ke Frontier Market diprediksikan masih relatif kecil. Ditambah lagi bila pembekuan sementara dicabut, maka bobot berbagai saham big caps berpotensi naik dan memicu inflow dana global.
Di sisi lain, para pelaku pasar juga mengantisipasi hasil RDG BI dimana guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Penetapan BI Rate diperkirakan naik 25 bps pada level 5,75 persen berdasarkan konsensus. Apalagi saat ini rupiah tertekan 0,21 persen pada level Rp17.762 per dolar AS," kata Nafan dalam riset.
Saham-saham yang ia soroti hari ini adalah AKRA, FORE, dan JPFA.
















