Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Jaringan Kriminal Cina Cuci Rp268 Triliun via Kripto Sepanjang 2025

ilustrasi kripto
ilustrasi kripto (unsplash.com/Traxer)

Jakarta, FORTUNE - Perusahaan analitik blockchain Chainalysis melaporkan bahwa sindikat kejahatan terorganisir berbahasa Cina telah menyalurkan dana ilegal senilai US$16,1 miliar, setara sekitar Rp268 triliun, melalui aset kripto sepanjang 2025. Angka ini dihitung berdasarkan asumsi kurs Rp16.769 per dolar AS.

Melansir CNBC, kelompok tersebut dikenal sebagai Chinese-language Money Laundering Networks (CMLNs). Jaringan ini menyumbang hampir 20 persen dari keseluruhan transaksi kripto ilegal global. Chainalysis memperkirakan total nilai aktivitas kripto ilegal sepanjang 2025 melampaui US$82 miliar.

CMLNs memanfaatkan berbagai kanal dan grup percakapan di aplikasi Telegram sebagai sarana operasional. Melalui platform tersebut, pelaku menawarkan layanan pencucian uang kepada pihak-pihak yang membutuhkan.

Dalam laporannya, Chainalysis mencatat bahwa promosi jasa kerap disertai foto tumpukan uang tunai serta testimoni terbuka untuk menunjukkan likuiditas dan kredibilitas layanan. Kanal Telegram ini dikenal sebagai “platform jaminan” (guarantee platforms), yang berfungsi sebagai pusat pemasaran sekaligus mekanisme escrow informal. Meski tidak terlibat langsung dalam eksekusi transaksi kripto, platform tersebut berperan sebagai jalur utama terjadinya kesepakatan keuangan ilegal.

Aktivitas ilegal di ekosistem Telegram ini tidak hanya berkutat pada pencucian uang. Kepala Intelijen Keamanan Nasional Chainalysis, Andrew Fierman, mengatakan berbagai tindak kejahatan lain juga berlangsung di sana.

“Selain pencucian uang, aktivitas di platform ini mencakup perdagangan manusia hingga penjualan perangkat Starlink yang digunakan di pusat-pusat penipuan di Asia Tenggara,” ujarnya.

Fierman menambahkan bahwa basis klien jaringan tersebut sangat luas, mulai dari sindikat kriminal lintas negara hingga aktor negara yang berada di bawah sanksi internasional. “Kami melihat aliran dana mulai dari uang Korea Utara dan peretasan terkait DPRK, hingga berbagai aktivitas ilegal lainnya,” kata Fierman.

Penggunaan Telegram sebagai medium kejahatan siber dinilai bukan fenomena baru. Profesor kriminologi Universitas Portsmouth, Mark Button, menyebut pola serupa juga ditemukan di India serta Afrika Barat. Chainalysis mengidentifikasi sedikitnya enam metode utama yang digunakan jaringan ini untuk menyamarkan aliran dana, dengan memanfaatkan kompleksitas ekosistem aset digital agar lebih sulit dilacak.

Menurut Fierman, kripto menarik bagi pelaku kejahatan karena sifatnya yang likuid, praktis, dan relatif anonim dibanding sistem keuangan tradisional. Stablecoin seperti USDT milik Tether dan USDC dari Circle menjadi alat favorit dalam proses pencucian uang. Nilainya yang dipatok terhadap dolar AS membuat risiko fluktuasi harga lebih terkendali dibanding Bitcoin atau Ethereum.

“Jika Anda terlibat aktivitas ilegal, hal terakhir yang diinginkan adalah kehilangan uang lebih banyak. Anda sudah harus membayar biaya pencucian uang, jangan sampai masih rugi karena harga Bitcoin anjlok 10 permen dalam seminggu," kata Fierman.

Selain aset digital, jaringan kriminal juga memanfaatkan bisnis sah sebagai kamuflase, termasuk kasino. Button menilai kasino sejak lama menjadi instrumen klasik pencucian uang, umumnya melalui manipulasi laporan pendapatan.

Asia Tenggara, khususnya Kamboja dan Myanmar, disebut berkembang menjadi basis baru sindikat kejahatan setelah Cina memperketat regulasi pencucian uang dan melarang perdagangan kripto pada 2021. Meski otoritas global terus meningkatkan pengawasan, penindakan lintas yurisdiksi masih menjadi tantangan besar. Chainalysis memperkirakan jaringan pencucian uang berbahasa Cina ini memproses dana ilegal rata-rata US$44 juta per hari sepanjang 2025.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

Februari, OJK-BEI-KSEI Mulai Ungkap Data Kepemilikan Saham di Bawah 5%

03 Feb 2026, 19:38 WIBMarket