Kinerja Amman Mineral Tertekan Larangan Ekspor dan Ramp-up Smelter

- Laba bersih Amman Mineral turun 60% menjadi US$248,97 juta pada 2025 akibat larangan ekspor konsentrat dan proses ramp-up smelter yang masih awal.
- Penurunan pendapatan 30,68% YoY disebabkan kadar bijih lebih rendah di Fase 8 serta tantangan operasional smelter, meski tanda pemulihan muncul di kuartal IV/2025.
- Total aset naik 24,72% menjadi US$13,87 miliar sementara liabilitas melonjak 43,70%; fokus 2026 diarahkan pada stabilisasi smelter dan efisiensi biaya operasional.
Jakarta, FORTUNE - Kinerja emiten tambang tembaga dan emas, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), tertekan sepanjang 2025 di tengah dampak larangan ekspor konsentrat serta proses peningkatan kapasitas (ramp-up) fasilitas smelter tahap awal.
Dikutip dari laporan keuangan perseroan, AMMN membukukan laba bersih sebesar US$248,97 juta atau Rp4,2 triliun pada tahun buku 2025. Angka ini merosot tajam hingga 60 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Penurunan laba tersebut sejalan dengan koreksi pendapatan perseroan yang turun 30,68 persen YoY menjadi US$1,84 miliar, dari sebelumnya US$2,66 miliar pada tahun 2024.
Direktur Utama Amman Mineral Internasional, Arief Sidarto, menjelaskan bahwa tahun 2025 merupakan fase transisi penting bagi perseroan menuju operasional yang terintegrasi penuh, dari hulu hingga hilir.
Menurut dia, tekanan kinerja dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, peralihan ke penambangan Fase 8 yang memiliki kadar bijih lebih rendah. Kedua, tantangan operasional pada tahap awal pengoperasian smelter yang masih dalam proses ramp-up.
“Peralihan ke penambangan Fase 8 bersamaan dengan proses peningkatan kapasitas smelter menimbulkan tekanan operasional jangka pendek. Namun, kami berhasil menuntaskan transformasi menjadi produsen tembaga dan emas yang terintegrasi penuh,” kata Arief dalam keterangan resminya, Kamis (26/3).
Meski demikian, sinyal pemulihan mulai terlihat pada akhir tahun. Pada kuartal IV 2025, kontribusi penjualan mencapai sekitar 70 persen dari total penjualan sepanjang tahun.
Kinerja kuartal akhir tersebut ditopang oleh mulai stabilnya operasional smelter dan fasilitas Precious Metal Refinery (PMR), serta didapatnya izin ekspor konsentrat sementara pada akhir Oktober 2025.
Sepanjang 2025, AMMN mencatatkan produksi sebesar 79.849 ton katoda tembaga dan 124.723 ons emas murni. Sementara itu, volume penjualan konsentrat pada kuartal IV mencapai 151.353 metrik ton kering.
Dari sisi profitabilitas, perseroan membukukan EBITDA sebesar US$1,05 miliar dengan margin yang tetap terjaga di level US$572,54 per ton.
Hingga akhir tahun lalu, AMMN mencatatkan kenaikan total aset 24,72 persen menjadi US$13,87 miliar dibandingkan US$11,12 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, liabilitas juga melonjak 43,70 persen YoY menjadi US$8,43 miliar, sementara ekuitas tumbuh terbatas 3,48 persen menjadi US$5,43 miliar.
Sementara itu, realisasi belanja modal tercatat sebesar US$1,37 miliar, turun 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan proyek-proyek ekspansi utama, seperti PLTGU dan fasilitas regasifikasi LNG, yang telah mendekati tahap penyelesaian.
Memasuki 2026, manajemen menegaskan fokus utama akan diarahkan pada stabilisasi kinerja smelter serta optimalisasi biaya operasional guna mendorong kinerja yang lebih berkelanjutan.
“Fokus kami tetap pada eksekusi disiplin dan optimalisasi biaya untuk menciptakan nilai berkelanjutan,” kata Arief.
















