Jakarta, FORTUNE — PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menyampaikan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) mengenai penempatan kas dan setara kas dalam mata uang asing senilai Rp12,9 triliun per 30 September 2026, Kamis (29/10). Nilai tersebut mencakup 83 persen dari total kas dan setara kas perseroan di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
Penempatan dana dalam mata uang asing tersebut menjadi bagian dari pengelolaan likuiditas perseroan yang total asetnya mencapai Rp24,9 triliun per akhir September 2026.
Sekretaris Perusahaan Bukalapak, Victor Putra Lesmana, menyatakan pengelolaan dana dilakukan dengan memperhitungkan aspek keamanan dana, likuiditas, serta kesesuaian jangka waktu penempatan dengan kebutuhan arus kas.
Pengelolaan ini bertujuan menjaga ketersediaan dana untuk kebutuhan operasional, pelaksanaan rencana bisnis, serta pemenuhan kewajiban keuangan perseroan.
"Perseroan melakukan penempatan tersebut sehubungan dengan pemenuhan kebutuhan operasional dalam mata uang asing dan juga optimalisasi hasil dari sisa dana kebutuhan operasional," kata Victor dalam penjelasan tertulisnya kepada BEI, Kamis (29/10).
Victor menyatakan penempatan kas valuta asing tersebut bukan bagian dari strategi pengelolaan dana hasil penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO). Seluruh dana bersih hasil IPO telah terealisasi sesuai peruntukan.
Bukalapak memperoleh dana bersih IPO sebesar Rp21,33 triliun. Pada akhir 2025, perusahaan itu memiliki sisa dana hasil IPO Rp4,28 triliun.
Seluruh sisa dana tersebut telah terpakai merujuk laporan realisasi penggunaan dana IPO yang disampaikan kepada publik pada 15 Juli 2026. Per 30 September 2026, tidak ada sisa dana IPO yang tercatat dalam saldo kas dan setara kas perseroan.
"Penempatan dana dalam mata uang asing bukan merupakan strategi dalam pengelolaan dana hasil IPO. Pengalokasian dana IPO sudah sesuai dengan hasil yang disetujui oleh Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perseroan," ujarnya.
