Jakarta, FORTUNE - PT Sucor Sekuritas masih memiliki 2 calon emiten yang mengantre untuk melakukan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), menyusul 2 aksi IPO pada Juli 2026.
Direktur Utama Sucor Sekuritas, Bernadus Wijaya, mengatakan, dua di antaranya sedang mempertimbangkan waktu IPO antara semester-II 2026 atau semester-I 2027. Sektor dari perusahaan itu adalah teknologi dan media.
"Tapi [detailnya] nanti saya belum bisa review lebih dalam lagi," kata Bernadus saat ditemui di gedung BEI, Selasa (7/7).
Lebih lanjut, IPO yang Sucor Sekuritas kawal minimal harus memiliki kapitalisasi pasar minimal Rp200 miliar atau lebih. Ukuran jumbonya bisa mencapai Rp1 triliun lebih.
Menurutnya, IPO pada semester-II 2026 akan melampaui semester-I 2026 yang hanya membukukan 1 IPO. Sektor-sektor yang menarik, di antaranya: consumer goods dan ritel.
"Produknya dekat dengan masyarakat dan karena itu, itu menarik investor untuk masuk sebagai pemegang saham sehingga lebih mudah mencari standby buyer," kata Bernadus.
Di sisi lain, sektor yang masih menantang adalah sektor teknologi. Itulah mengapa Sucor Sekuritas juga masih meninjau perkembangan minat investor terhadap saham sektor tersebut sembari menentukan jadwal IPO calon emiten di pipeline-nya.
"Karena ketika suku bunga naik, yang dicari itu pasti sektor yang memberikan kepastian," ujarnya.
Sebagai konteks, pada Juli 2026, Sucor Sekuritas membawa 2 emiten untuk mencatatkan saham di BEI, yakni: PT Niramas Utama Tbk (JELI) pada 7 Juli dan PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) pada 9 Juli 2026.
Saat seremoni IPO JELI, saham tersebut naik 25 persen dan mencapai auto reject atas (ARA) di harga Rp1.125 per saham. Selama masa penawaran, Sucor Sekuritas membukukan kelebihan permintaan sebesar 273,37 kali pada porsi penjatahan, dengan partisipasi dari 630.491 investor.
Sementara itu, untuk PRDL, antrean pemesanan sudah melampaui 1,2 juta. "Oversubscribe-nya juga sudah luar biasa," kata Bernadus.
