Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Asia Diproyeksi Sumbang 52% Terhadap PDB Global pada 2050
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Dok Humas Ekon
  • Asia diproyeksikan menyumbang 52% terhadap PDB global pada 2050, menegaskan perannya sebagai kekuatan penyeimbang ekonomi dunia.
  • Airlangga Hartarto menekankan pentingnya inklusivitas, keterbukaan perdagangan, dan kerja sama regional untuk menjaga stabilitas serta mencegah fragmentasi global.
  • Pemerintah Indonesia memperkuat ketahanan energi melalui program biodiesel B40-B50, bioetanol E10-E20, dan pengembangan PLTS hingga 800 GW dalam kerangka Indonesia Incorporated.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Asia dinilai memiliki peran penting sebagai kekuatan penyeimbang yang mampu menjaga stabilitas ekonomi global. Kawasan Asia diproyeksikan akan menyumbang sekitar 52 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) global pada 2050.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa Asia perlu tetap berpegang pada prinsip inklusivitas dan multikulturalisme berbasis aturan (rules-based multilateralism).

Kerja sama regional melalui berbagai kerangka seperti ASEAN, kemitraan ekonomi regional, serta forum multilateral seperti G20 menjadi instrumen penting untuk memperkuat integrasi ekonomi, meningkatkan konektivitas, serta menjaga stabilitas kawasan di tengah rivalitas kekuatan besar dan Kawasan lainnya.

Asia didorong untuk mencegah fragmentasi global menjadi blok-blok yang bersaing. Sebaliknya, kawasan tersebut perlu memperkuat keterbukaan perdagangan, konektivas ekonomi, serta kerja sama strategis yang saling melengkapi guna mendorong pertumbuhan bersama.

“Jika Asia tetap berpegang pada semangat keterbukaan regional dan menolak pendekatan zero-sum dalam rivalitas kekuatan besar, maka abad ke-21 dapat benar-benar menjadi abad Asia,” kata Menko Airlangga dalam keterangan resmi, Kamis (12/3).

Di samping itu, Airlangga juga menyoroti bahwa pemerintah Indonesia terus memperkuat ketahanan energi nasional, di tengah situasi geopolitik global yang memanas. Indonesia saat ini telah mengimplementasikan program Biodiesel B40 dan menargetkan menuju B50.

Tak hanya itu, pemerintah juga mendorong pengembangan bioetanol melalui program E10 yang akan dipercepat implementasinya menuju E20. Di sisi energi baru terbarukan, Indonesia tengah menyiapkan pengembangan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 800 Gigawatt.

Pemerintah Indonesia juga mendorong pendekatan “Indonesia Incorporated”, yakni sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat transformasi ekonomi nasional dan meningkatkan daya saing global.

“Arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia sendiri harus ada di tengah panggung ekonomi global karena kinerja ekonomi yang tetap solid di tengah ketidakpastian global. Indonesia juga akan terus melakukan diplomasi non-blok didalam menavigasi ketidakpastian global ini,” kata Airlangga.

Editorial Team