Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

BPS Imbau Pemerintah Antisipasi Eskalasi Inflasi Jelang Tutup Tahun

2 min read
BPS Imbau Pemerintah Antisipasi Eskalasi Inflasi Jelang Tutup Tahun
Warga berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Barito, Ternate, Maluku Utara, Sabtu (3/10). ANTARA FOTO/Andri Saputra
  • BPS mengimbau pemerintah mengantisipasi eskalasi inflasi pada akhir 2026, karena konsumsi menjelang Natal dan Tahun Baru secara historis meningkatkan tekanan harga pada November dan Desember.
  • Inflasi tahun kalender Januari–September 2026 mencapai 2,17 persen, lebih tinggi dibanding periode sama 2023–2025, tetapi masih di bawah capaian September 2022 sebesar 4,84 persen.
  • Pendorong inflasi kumulatif berasal dari makanan, minuman, tembakau, dan transportasi; bensin, beras, minyak goreng, ayam, rokok, nasi lauk, serta ponsel tercatat berulang menyumbang kenaikan harga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Badan Pusat Statistik (BPS) mengimbau pemerintah mengantisipasi potensi eskalasi inflasi pada penghujung tahun kalender 2026. Data BPS menunjukkan tren penambahan tekanan harga pada November dan Desember akibat lonjakan konsumsi masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Direktur Statistik Harga BPS, Sarpono, menyampaikan realisasi inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) periode Januari hingga September 2026 mencapai 2,17 persen. Persentase ini melampaui capaian pada rentang waktu yang sama selama kurun 2023–2025, namun berada di bawah posisi rekapitulasi September 2022 yang menyentuh 4,84 persen.

“Kalau kita bicara secara historis, biasanya November lebih tinggi daripada inflasi Oktober dan inflasi Desember juga lebih tinggi dibandingkan November,” kata Sarpono dalam rapat koordinasi inflasi daerah melalui telekonferensi, Senin (19/10).

Merujuk pada rekapitulasi inflasi per bulan periode 2022–2025, BPS memetakan fluktuasi angka pada bulan Oktober. Indonesia membukukan deflasi 0,11 persen pada Oktober 2022.

Pada Oktober 2023, 2024, dan 2025, BPS mencatat adanya inflasi masing-masing 0,17 persen, 0,08 persen, dan 0,28 persen.

Pada dua bulan penutup tahun, grafik inflasi selalu mencetak angka penambahan selama empat tahun pembukuan. Pada Desember 2025, realisasi inflasi menyentuh 0,64 persen, setelah November berada pada level 0,17 persen.

Rekam jejak pada 2024 turut memperlihatkan eskalasi inflasi dari 0,30 persen pada November menjadi 0,44 persen pada Desember. Meski demikian, Sarpono mengingatkan rekapitulasi tersebut merepresentasikan kecenderungan pola, bukan kepastian arah pergerakan harga pada akhir 2026.

Secara kumulatif hingga September 2026, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mendominasi sumbangan angka inflasi. Kelompok transportasi turut memberikan porsi kontribusi pendorong harga komoditas di pasaran.

BPS mengidentifikasi deretan komoditas penyumbang inflasi dengan frekuensi empat hingga sembilan kali sepanjang kurun waktu Januari–September 2026. Daftar komoditas tersebut mencakup bensin, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin, nasi dengan lauk, dan telepon seluler.

Sebaliknya, beberapa komoditas menahan laju inflasi dengan mencetak deflasi. Bawang merah, telur ayam ras, dan cabai merah memimpin sumbangan porsi deflasi. Ketiga komoditas ini membukukan andil penahan laju inflasi sebanyak empat hingga lima kali pada sembilan bulan pembukaan tahun.

Dinamika pergerakan harga deretan komoditas tersebut menjadi indikator pantauan pemerintah menjelang penutupan tahun, mengingat potensi penambahan volume permintaan masyarakat berpeluang mengeskalasi harga. 

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More