Jakarta, FORTUNE - Badan Pusat Statistik (BPS) mewaspadai potensi kenaikan harga beras dalam beberapa bulan ke depan seiring prediksi fenomena El Nino yang berpotensi memicu penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia dihadapkan pada prediksi El Nino hingga awal kuartal. Kondisi tersebut juga berpotensi terjadi bersamaan dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada September hingga Desember 2026.
Menurut Ateng, potensi kekeringan perlu menjadi perhatian karena curah hujan yang rendah dapat mengganggu produksi pangan. Jika produksi dan pasokan beras terganggu, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
“Kita pernah mengalami inflasi yang cukup tinggi pada saat adanya El Nino. Ingat di tahun 2023 yang lalu pada saat adanya curah hujan yang rendah atau identik dengan El Nino,” kata Ateng dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah yang disiarkan melalui YouTube Kementerian Dalam Negeri, Selasa (18/8).
Pada September 2023, inflasi beras mencapai 5,61 persen. Menurut BPS, tekanan harga tersebut berkaitan dengan rendahnya curah hujan yang berdampak terhadap produksi pertanian.
Tekanan harga beras juga berlanjut hingga awal 2024. BPS mencatat inflasi beras mencapai 5,32 persen pada Februari 2024.
Kondisi cuaca lebih kering dapat memengaruhi produksi pertanian di sejumlah wilayah, antara lain melalui gagal panen maupun penundaan masa panen. Ketika produksi menurun dan masa panen tertunda, pasokan beras menjadi lebih terbatas sehingga berpotensi mendorong harga di tingkat konsumen.
Ateng mengatakan pengalaman tersebut menjadi alasan BPS meminta perkembangan harga pangan terus dicermati dalam beberapa bulan ke depan.
“Kita cermati di bulan-bulan depan pada saat terjadinya kondisi curah hujan yang relatif minimal seperti perkiraan tadi BMKG,” ujarnya.
