Danantara Ungkap Proyek Sampah Jadi Energi Diminati Banyak Negara

- Lebih dari 100 perusahaan berpartisipasi dalam tender.
- Negara-negara seperti Belanda, Jerman, Spanyol, Korea Selatan, Jepang, Cina, Malaysia, dan Singapura tertarik berinvestasi.
- Danantara menargetkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi di 33 kota di Indonesia.
Jakarta, FORTUNE — Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengonfirmasi tingginya minat investor domestik dan global terhadap proyek pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy) di Indonesia. Melalui skema baru yang lebih efisien, pemerintah menargetkan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan fasilitas di 33 kota dapat dimulai serentak pada Maret 2026.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan minat tersebut tecermin pada jumlah peserta tender yang melampaui 100 perusahaan. Negara-negara seperti Belanda, Jerman, Spanyol, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok, Malaysia, hingga Singapura telah mendaftarkan diri dalam proyek yang dirancang secara terbuka ini.
“Kalau kita lihat, minatnya itu sangat luar biasa, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Bahkan banyak yang dari luar negeri, dari berbagai negara,” ujar Rosan dalam acara Semangat Awal Tahun by IDN Times di Jakarta, Rabu (14/1).
Untuk meminimalkan hambatan birokrasi, Danantara menerapkan terobosan dengan menetapkan harga jual listrik secara tetap. Langkah ini efektif memangkas waktu proses yang sebelumnya bisa memakan waktu hingga empat tahun menjadi hitungan bulan.
“Harga listriknya juga sudah kita tentukan, satu harga saja, 20 sen per kWh. Jadi tidak perlu lagi negosiasi. Dari awal kita buka, harganya segini, kebutuhannya segini,” ujar Rosan.
Selain kepastian harga, Danantara mewajibkan investor global untuk bermitra dengan perusahaan lokal melalui skema konsorsium. Syarat ini diajukan guna memastikan terjadinya proses transfer of knowledge dan transfer of technology bagi pelaku industri nasional.
Urgensi proyek ini didasari oleh kondisi darurat sampah di kota-kota besar. Sebagai gambaran, Jakarta menghasilkan sekitar 8.000 hingga 8.500 ton sampah per hari. Di TPST Bantar Gebang, akumulasi sampah yang tertimbun saat ini telah mencapai sekitar 55 juta ton.
“55 juta ton itu besarnya kira-kira setara 16.500 lapangan sepak bola,” kata Rosan.
Merespons kondisi pengelolaan sampah di Indonesia yang belum sepenuhnya terpisah, Danantara mensyaratkan penggunaan teknologi yang fleksibel. Investor harus mampu menyediakan teknologi yang dapat mengolah sampah lama maupun harian tanpa memerlukan proses pemilahan awal yang rumit.
“Kita minta teknologinya tidak harus dipilah-pilah. Memang listriknya mungkin berkurang, tapi tidak apa-apa. Yang penting sampah lama dan sampah baru bisa diolah,” ujarnya.
Proses penentuan lokasi dan provinsi berada di bawah wewenang Kementerian Lingkungan Hidup. Setelah sebuah daerah dinyatakan siap dari sisi volume sampah dan lahan, Danantara akan melanjutkan proses tender secara transparan.
Setiap proyek nantinya akan melibatkan Danantara sebagai mitra lokal, bersinergi dengan perusahaan daerah dan swasta nasional.


















