Selat Hormuz Ditutup, Ini Ekspor–Impor RI yang Berpotensi Terimbas

Selat tersebut adalah jalur penting bagi ekspor–impor Indonesia ke kawasan Timur Tengah.
Di antara komoditas yang penting adalah logam mulia, besi baja, buah-buahan, serta minyak nabati.
BPS mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia melalui selat tersebut mencapai miliaran dolar AS.
Jakarta, FORTUNE - Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menyusul eskalasi konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel memicu kekhawatiran serius bagi stabilitas perdagangan global, termasuk Indonesia. Jalur strategis yang memisahkan Oman dan Iran ini merupakan rute penting bagi arus logistik Indonesia menuju pasar utama di kawasan Timur Tengah.
Sebagai penghubung vital antara wilayah Teluk dan Laut Arab, Selat Hormuz memainkan peran sentral dalam kelancaran pengiriman komoditas Indonesia, terutama perdagangan dengan tiga mitra utama: Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Iran.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menekankan bahwa selat tersebut adalah rute dominan bagi barang-barang yang diperdagangkan Indonesia dengan ketiga negara tersebut.
“Memang secara dampak perlu dikaji lebih jauh,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Senin (2/3).
Struktur impor nonmigas Indonesia menunjukkan ketergantungan yang cukup tinggi pada jalur ini. Dari Uni Emirat Arab, nilai impor yang melintasi Selat Hormuz mencapai US$1,4 miliar. Komoditas terbesar yang didatangkan adalah logam mulia dan perhiasan senilai US$511,1 juta, aluminium (HS76) sebesar US$181,6 juta, serta garam, belerang, dan semen senilai US$43,2 juta.
Ketergantungan serupa terlihat pada perdagangan dengan Oman, dengan nilai impor menyentuh US$718,8 juta. Pasokan bahan baku industri mendominasi arus ini, yakni besi dan baja senilai US$590,5 juta, bahan kimia organik (HS29) sebesar US$56,7 juta, serta komoditas garam dan semen (HS25) mencapai US$44,2 juta.
Sementara itu, impor dari Iran sepanjang 2025 mencapai US$8,4 juta. Mayoritas kiriman berupa buah-buahan (HS08) senilai US$5,9 juta, diikuti besi baja serta peralatan mekanis.
Di sisi ekspor, Selat Hormuz menjadi gerbang utama bagi produk unggulan domestik. Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke UEA melalui jalur ini merupakan yang terbesar, mencapai US$4,0 miliar. Ekspor tersebut mencakup minyak hewan/nabati senilai US$510,3 juta, kendaraan (HS87) sebesar US$363,5 juta, serta logam mulia senilai US$183,6 juta.
Arus ekspor ke Oman juga mencatatkan angka signifikan sebesar US$428,8 juta. Pilar utamanya adalah lemak dan minyak hewan nabati senilai US$227,7 juta, kendaraan sebesar US$64,2 juta, serta bahan bakar mineral (HS27) senilai US$48,1 juta.
Adapun ekspor ke Iran terakumulasi sebesar US$249,1 juta. Komoditas yang mendominasi meliputi buah-buahan (HS08) senilai US$86,4 juta, kendaraan (HS87) sebesar US$34,1 juta, serta lemak dan minyak nabati senilai US$22 juta.


















