Mosaik Q1-2026: Gairah di Kawasan Bisnis, Lesu di Hunian

Pasar properti menunjukkan kontras antara sektor komersial yang bergairah dan hunian yang masih lesu.
Pasar perkantoran dan ritel di Jakarta mencatat peningkatan permintaan signifikan, terutama dari sektor keuangan dan teknologi.
Sektor logistik modern menjadi primadona dengan okupansi 96 persen.
Jakarta, FORTUNE - Perekonomian Indonesia pada triwulan awal 2026 menampakkan wajah kontras. Di satu sisi, angka-angka makro menunjukkan kemolekan dengan pertumbuhan ekonomi 5,61 persen dan kucuran investasi asing (FDI) mencapai US$15,1 miliar.
Namun di sisi lain, pasar properti justru sedang mengeja arah angin antara bergerak dinamis pada sektor komersial, tapi tetap bersahaja pada sektor hunian.
James Taylor, Head of Research JLL Indonesia, menyatakan pasar perkantoran menjaga momentum pemulihan dengan tingkat hunian stabil pada level 72 persen.
Animo penyewa pada kuartal pertama tahun ini melonjak dua kali lipat dibandingkan dengan periode sama tahun silam.
“Tidak adanya pasokan baru di kawasan CBD terus mendukung permintaan pada inventori existing,” ujar James dikutip dari siaran pers, Selasa (12/5).
Ia mengamati, kini para penyewa lebih suka bersiasat dengan pindah ke gedung-gedung yang punya kualitas lebih jempolan.
Seirama dengan James, Panji Aziz, Head of Tenant Representation menyoroti fenomena baru di gedung-gedung Grade A.
Sektor jasa keuangan dan teknologi kini menjadi motor utama yang menggerakkan pasar. Kini banyak perusahaan memburu ruang kantor siap pakai lengkap dengan furniturnya.
“Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, beberapa pemilik gedung mempertahankan furnitur dari penyewa sebelumnya atau menyediakan ruangan yang sudah dilengkapi furnitur baru,” ujar Panji.
Walhasil, harga sewa Grade A terkerek 0,95 persen, melanjutkan tren positif yang telah dimulai sejak tahun lalu.
Sayangnya, kabar baik ini tak merata. Di luar kawasan CBD, beberapa gedung mulai megap-megap menahan tekanan okupansi lantaran penyewa melakukan efisiensi ruang atau memilih hijrah ke pusat kota.
Wajah cerah juga tampak pada pasar ritel. Aroma teh asal Tiongkok dan wangi parfum mewah luar negeri menjadi penanda ekspansi di pusat-pusat belanja premium Jakarta. Dengan serapan ruang mencapai 10.000 meter persegi, tingkat hunian mal di Jakarta kini menyentuh 86 persen.
Di Jakarta Selatan, sebuah pusat belanja baru berkonsep semi-outdoor seluas 9.000 meter persegi pun telah resmi naik panggung.
Namun, suasana berbeda menyelimuti pasar kondominium. Sektor ini mengawali tahun dengan langkah berhati-hati.
Meski ada sedikit kenaikan permintaan yang didorong oleh unit siap huni dan sokongan insentif PPN dari pemerintah, pasar secara umum masih nampak lesu. Milda Abidin, Senior Director Strategic Consulting, menyebut adanya perlambatan di wilayah Bodetabek.
Di tengah kelesuan itu, muncul terobosan baru di Depok berupa kondominium bertingkat rendah yang menjadi jalan tengah antara rumah tapak dan hunian vertikal.
“Adanya perpanjangan insentif PPN hingga 2027 diharapkan dapat meningkatkan aktivitas penjualan properti hunian,” kata Milda.
Jika ada sektor yang patut disebut sebagai "primadona", maka logistik modern adalah jawabannya. Dengan tingkat hunian 96 persen, sektor ini menjadi magnet investasi, terutama dari manufaktur Tiongkok.
Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia, menegaskan bahwa dinamika ini tak lagi melulu soal Jabodetabek.
“Permintaan kini menjalar hingga ke Bandung, Subang, dan Surabaya,” kata Farazia.
Baginya, logistik adalah segmen dengan performa terkuat saat ini.
Kendati demikian, optimisme ini tidak datang tanpa catatan. Herully Suherman, Senior Director Capital Markets, mengingatkan bahwa tantangan transparansi dan gejolak global tetap harus diwaspadai.
Lonjakan harga minyak dunia dan tekanan terhadap rupiah menjadi momok yang bisa memicu inflasi dan mengganggu biaya operasional.
“Tekanan pada rupiah meningkatkan volatilitas dan risiko nilai tukar bagi investor asing, yang mendorong pendekatan investasi lebih selektif,” ujar Herully.

















