Jakarta, FORTUNE - Laporan Compas.co.id bertajuk FMCG E-commerce Outlook Report 2026 memproyeksikan nilai pasar FMCG e-commerce Indonesia dapat mencapai Rp155 triliun pada akhir 2026. Proyeksi tersebut didasarkan pada pola lonjakan konsumsi yang konsisten setiap Ramadan, termasuk peningkatan tajam pada sejumlah kategori produk selama musim belanja Lebaran.
CEO Compas.co.id, Hanindia Narendrata menilai pola lonjakan musiman tersebut menjadi indikator kuat bagi prospek industri FMCG di kanal digital.
“Adanya lonjakan musiman dari perayaan Ramadan setiap tahunnya, membuat kami semakin optimis bahwa di penghujung tahun 2026, pasar FMCG e-commerce Indonesia akan menembus angka Rp155 triliun,” ujarnya.
Memasuki sepuluh hari menjelang Idul Fitri 2026 yang jatuh pada 21 Maret, Compas.co.id memaparkan analisis tren musiman untuk membantu pelaku industri mengantisipasi puncak permintaan.
Data historis Ramadan 2025 menunjukkan bahwa konsumen Indonesia cenderung meningkatkan pembelian pada kategori tertentu, terutama untuk kebutuhan jamuan hari raya serta persiapan penampilan diri saat bersilaturahmi.
Hanindia memaparkan, dalam kategori makanan dan minuman (F&B), laporan mencatat pertumbuhan signifikan selama periode puncak Ramadan 2025. Lonjakan tersebut didorong oleh fenomena pantry stocking, yakni kecenderungan konsumen menimbun bahan makanan untuk kebutuhan selama bulan puasa dan perayaan Lebaran.
Subkategori biskuit dan kue kering mencatat pertumbuhan tertinggi dengan lonjakan hingga 131 persen. Kategori kacang-kacangan menyusul dengan kenaikan 124 persen, sementara makanan siap saji meningkat 82 persen dan cokelat tumbuh 54 persen.
Di sisi lain, kebutuhan untuk tampil maksimal saat momen silaturahmi turut mendorong pertumbuhan kategori kecantikan. Segmen ini menyumbang 52,1 persen dari total nilai pasar FMCG dalam ekosistem e-commerce.
"Pada periode Ramadan, produk kosmetik dekoratif juga menunjukkan peningkatan tajam," katanya.
Foundation mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 96 persen, diikuti maskara yang meningkat 65 persen serta bedak yang naik 43 persen. Selain itu, kategori kesehatan khususnya suplemen kecantikan juga mengalami kenaikan 66 persen, mencerminkan tren wellness atau konsep “cantik dari dalam” yang semakin populer selama bulan puasa.
Laporan ini dapat dimanfaatkan pelaku industri untuk memahami dinamika pasar serta menyusun strategi distribusi dan pemasaran berbasis data sepanjang tahun ini. Insight tersebut diharapkan membantu perusahaan FMCG mengoptimalkan peluang pertumbuhan di tengah meningkatnya aktivitas belanja digital masyarakat.
