NEWS

GAPMMI Tanggapi Rencana PPN 12 Persen: Bakal Tekan Daya Beli

GAPMMI usul tarif PPN barang mewah yang dinaikkan.

GAPMMI Tanggapi Rencana PPN 12 Persen: Bakal Tekan Daya BeliPemerintah melepaskan harga minyak goreng kemasan ke mekanisme pasar . ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani
21 March 2024

Fortune Recap

  • Ketua Umum GAPMMI mengkritik rencana kenaikan PPN 12% pada 2025.
  • Dia menilai daya beli masyarakat belum pulih akibat pandemi Covid-19.
  • Dia mengusulkan penurunan PPN untuk komoditi pangan yang strategis, seperti produk olahan pangan.
Follow Fortune Indonesia untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News

Jakarta, FORTUNE - Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S. Lukman, mengatakan bahwa rencana kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) 12 persen pada 2025 akan sangat memberatkan, terutama berkenaan dengan daya beli masyarakat.

Sebab, dia menilai daya beli masyarakat saat ini belum pulih seperti sebelum pandemi Covid-19 merebak.  

“Kalau mau dinaikkan lagi akan semakin berat,” kata dia kepada Fortune Indonesia, Rabu (20/3).

Dia mengusulkan PPN untuk komoditas pangan justru semestinya dapat diturunkan karena termasuk ke dalam golongan sangat strategis. Apalagi produk pangan olahan menyumbang sekitar 30 persen terhadap PDB.

“Paling tidak saya usulkan turun di 7 atau 8 persen,” ujarnya.

Dalam PMK Nomor 70/PMK.03/2022, makanan dan minuman tidak termasuk dalam sektor dengan PPN disesuaikan menjadi 11 persen pada 2022. Dengan begitu, PPN pada sektor pangan masih 10 persen, termasuk jasa perhotelan dan jasa boga atau katering.

Kenaikan PPN semestinya menyasar produk-produk mewah (branded) yang tidak terlalu dibutuhkan oleh masyarakat kelas menengah-bawah untuk mengompensasi pendapatan negara.

“Kalau barang luxury dinaikkan (PPN) tidak apa,” katanya.

Related Topics

    © 2024 Fortune Media IP Limited. All rights reserved. Reproduction in whole or part without written permission is prohibited.