BlackRock Peringatkan Risiko Resesi Jika Harga Minyak US$150 per Barel

- CEO BlackRock, Larry Fink, memperingatkan risiko resesi global jika harga minyak dunia melonjak hingga US$150 per barel akibat ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
- Harga minyak Brent naik 3,8% menjadi US$106,12 per barel dan WTI naik 3,6% menjadi US$93,61 setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan AS terkait upaya mengakhiri perang.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu krisis pasokan energi global, dengan Barclays memperkirakan potensi kehilangan 13-14 juta barel per hari serta dampak besar bagi pasar energi dunia.
Jakarta, FORTUNE - CEO BlackRock, Larry Fink, memperingatkan potensi resesi global jika harga minyak dunia mencapai US$150 per barel. Peringatan tersebut dilontarkan di tengah memanasnya konflik Iran dan Amerika yang telah mendorong lonjakan harga energi.
"Jika terjadi penghentian perang, namun Iran tetap menjadi ancaman, ancaman terhadap perdagangan, ancaman terhadap Selat Hormuz, ancaman terhadap koeksistensi damai kawasan Gulf Cooperation Council (GCC), maka saya berpendapat bahwa kita bisa mengalami tahun-tahun dengan harga minyak di atas US$100, mendekati $150, yang memiliki implikasi mendalam terhadap perekonomian," kata Fink dalam podcast Big Boss Interview BBC, dikutip Kamis (26/3).
Sebagai konteks, harga minyak berfluktuasi dan naik tajam sejak perang AS-Israel di Iran dimulai.
Sementara itu, menurut laporan CNBC, harga minyak naik pada hari Kamis (26/3) setelah Iran mengisyaratkan bahwa mereka tidak berniat mengadakan pembicaraan langsung dengan Amerika Serikat, meskipun proposal AS untuk mengakhiri perang sedang ditinjau oleh para pejabat senior di Teheran, menurut pernyataan dari menteri luar negeri Iran tersebut.
Harga minyak mentah Brent internasional naik 3,8 persen menjadi US$106,12 per barel, sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 3,6 persen menjadi US$93,61 per barel.
Iran secara efektif telah memblokir Selat Hormuz sejak awal perang, memutus jalur yang biasanya dilewati sekitar 20 persen minyak dan gas alam dunia setiap harinya.
Hal ini telah menimbulkan krisis pasokan, memaksa negara-negara di Asia untuk mengambil langkah-langkah untuk mengamankan pasokan minyak dan gas.
Sementera, Barclays mengatakan pada hari Kamis bahwa penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan kemungkinan akan menyebabkan hilangnya pasokan sebesar 13-14 juta barel per hari, dan mencatat bahwa meskipun skala gangguannya sangat besar, ketidakpastian mengenai durasinya juga besar.
The International Energy Agency memperkirakan permintaan minyak dunia tahun ini akan mencapai sekitar 104-105 juta barel per hari.
Barclays menambahkan bahwa perang Iran telah memicu guncangan geopolitik terbesar terhadap pasar energi sejak Perang Teluk 1990, yang didorong oleh fundamental pasar spot yang sangat ketat daripada kelebihan spekulatif.


















