Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Picu Koreksi Harga Minyak Dunia
ilustrasi tambang minyak (pexels.com/Zukiman Mohamad)
  • Harga minyak dunia turun karena optimisme terhadap negosiasi damai AS-Iran yang memicu harapan pulihnya pasokan energi global dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
  • AS memberikan pengabaian sanksi 60 hari kepada Iran, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai pulih dengan sejumlah kapal tanker kembali melintas setelah tercapainya gencatan senjata.
  • Meski pasokan mulai normal, analis menilai pemulihan penuh masih butuh waktu karena risiko keamanan laut dan hambatan infrastruktur tetap menjadi tantangan bagi kelancaran perdagangan minyak global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE Harga minyak dunia kembali bergerak turun pada perdagangan Selasa (23/6) seiring meningkatnya optimisme pasar terhadap perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan pulihnya arus pasokan energi global setelah muncul sinyal kemajuan dalam pembicaraan damai kedua negara.

Melansir Reuters, kontrak minyak mentah Brent ditutup melemah 1,1 persen ke level US$77,08 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,9 persen atau 65 sen menjadi US$73,21 per barel.

Penurunan tersebut memperpanjang tren pelemahan yang sudah terjadi sehari sebelumnya ketika harga minyak terkoreksi sekitar 3 persen. Bahkan, kedua kontrak acuan sempat menyentuh posisi terendah dalam hampir empat bulan terakhir.

Sentimen utama yang menekan harga berasal dari langkah Amerika Serikat yang memberikan pengabaian sanksi terhadap Iran selama 60 hari setelah dimulainya pembicaraan damai. Selain itu, laporan mengenai meredanya konflik di Lebanon juga turut meningkatkan harapan pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan Iran tidak akan dapat mengenakan biaya terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan akhir dengan Washington karena langkah tersebut bertentangan dengan hukum internasional.

Selama lebih dari tiga bulan terakhir, penutupan Selat Hormuz akibat konflik telah mengganggu pasokan energi global. Jalur pelayaran strategis tersebut merupakan pintu keluar bagi sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA), pada puncak krisis lebih dari 14 juta barel minyak per hari tidak dapat diproduksi atau tertahan dari pasar. Volume tersebut setara dengan sekitar 14 persen kebutuhan minyak global.

Kini investor mulai mencermati kecepatan pemulihan produksi dan ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah, termasuk kemampuan negara-negara produsen untuk mengembalikan kapasitas yang sempat terdampak konflik.

Sumber militer Iran kepada kantor berita Fars mengatakan sejumlah kapal dalam jumlah terbatas telah kembali diizinkan melintas melalui Selat Hormuz setiap hari dengan koordinasi Angkatan Laut Garda Revolusi Iran.

Data pelacakan kapal juga menunjukkan tiga kapal tanker super besar yang sebelumnya tertahan berhasil melewati selat tersebut pada Selasa. Selain itu, tujuh kapal tanker LNG kosong yang terkait dengan Qatar telah memasuki kawasan itu dalam beberapa pekan terakhir.

Badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan proses evakuasi bagi ratusan kapal dan sekitar 11.000 awak yang sempat terjebak di kawasan Teluk sedang berlangsung menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sebanyak 19 juta barel minyak telah berhasil melewati Selat Hormuz pada Senin. Ia juga menyoroti pelemahan harga minyak dalam unggahannya di media sosial sehari kemudian.

Meski demikian, sejumlah analis menilai pasar masih perlu berhati-hati karena proses normalisasi pasokan belum sepenuhnya pulih.

“Namun, dalam jangka pendek, pelonggaran sanksi tersebut tidak akan banyak menekan harga minyak,” kata Analis Pasar SEB Research Ole Hvalbye.

Menurut Hvalbye, kesepakatan yang dicapai kedua negara masih berada pada tahap awal sehingga berbagai risiko masih dapat muncul sewaktu-waktu.

Pandangan serupa disampaikan Analis PVM Oil Associates Tamas Varga yang menilai pemulihan lalu lintas pelayaran tidak akan berlangsung instan.

"Pemilik dan operator kapal akan membutuhkan jaminan bahwa ancaman dari ranjau laut telah sepenuhnya dihilangkan. Pelabuhan yang rusak, puing-puing di perairan, serta kemacetan menjadi hambatan tambahan bagi peningkatan lalu lintas kapal secara penuh," kata Tamas Varga.

Meski harga minyak saat ini bergerak turun, arah pasar dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan implementasi kesepakatan damai serta kecepatan pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Bagi pelaku pasar energi, stabilitas jalur perdagangan tersebut tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga keseimbangan pasokan minyak global.

Editorial Team

Related Article