Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mewaspadai kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah untuk memberikan stimulus ekonomi di tengah berlanjutnya ketegangan geopolitik global.
Meski demikian, Purbaya mengatakan, hingga saat ini pemerintah belum mengubah arah kebijakan fiskal.
"Belum ada (perubahan kebijakan fiskal), cuma saya khawatir harga minyaknya naik terlalu tinggi. Jadi ruang fiskal saya untuk stimulus masih terbatas selain RWPM," ujar Purbaya di Jakarta, Rabu (22/7).
Ia menjelaskan, sebelumnya pemerintah menyusun perhitungan anggaran dengan asumsi harga minyak sekitar US$100 per barel. Ketika harga minyak berada di kisaran lebih rendah, pemerintah sempat memperkirakan adanya tambahan ruang anggaran yang bisa dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Tadinya ketika saya harap harga minyak ke US$70 [per barel], sebelumnya anggaran saya hitung dengan harga US$100 [per barel]. Jadi saya ada uang lebih untuk dipakai mendorong perkembangan ekonomi. Sekarang mungkin uangnya agak berkurang, jadi saya harus hati-hati lagi," katanya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga. Menurutnya, ketahanan ekonomi domestik masih cukup kuat meskipun dunia menghadapi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan perlambatan ekonomi global.
Ia optimistis perekonomian Indonesia akan terus membaik ke depan karena 90 persen masih ditopang oleh permintaan domestik.
Sebagai informasi tambahan, harga minyak kembali meningkat dipengaruhi konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas setelah militer AS melancarkan serangan ke wilayah Iran selama 10 malam berturut-turut.
Sementara, kapal tanker minyak berbalik arah di Laut Merah setelah peringatan dari milisi Houthi yang didukung Iran. Pada Rabu (22/7), harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman September 2026 naik US$1,84, atau 2 persen menjadi US$92,85 per barel, posisi tertinggi sejak 11 Juni 2026.
