Husein Jafar: Bagi Saya Dakwah Bukan Industri Nasihat

Jakarta, FORTUNE – Pendakwah dan kreator konten Husein Ja'far Al Hadar mengatakan banyak mubalig atau juru dakwah menjadikan penyiaran agama atau dakwah sebagai mata pencaharian.
Jika tidak mencari cuan, kata dia, minimal dakwah dijadikan sebagai medium untuk menegaskan eksistensi atau sekadar untuk pencitraan.
Menurutnya, seorang pendakwah seyogianya tidak berlaku seperti itu. “Makanya itu bagi saya dakwah bukan industri. Sampai sekarang di tahun keempat di channel YouTube saya tidak pasang adsense,” kata dia ketika berbicara pada forum Fortune Indonesia Summit 2023, Rabu (15/3).
Pada batas tertentu, menurutnya, pendakwah juga membutuhkan sumber daya yang besar untuk mendukung aktivitas dakwahnya. Namun, kata Husein, itu hanya sebatas kebutuhannya untuk berdakwah. “Tapi selebihnya itu kemudian dakwah tidak bisa dijadikan ladang untuk itu,” ujarnya.
Dia pun menyayangkan masyarakat yang kurang mengapresiasi guru agama atau pendakwah. Namun, untuk hal lain, orang dapat dengan sukarela menggelontorkan dana cukup besar.
Sebagai contoh, Husein bercerita pernah mengajar anak orang kaya mengaji, dan mendapatkan honor Rp2 juta per bulan. Tetapi, suatu ketika, dia diajak untuk mengajar menngaji di villa anak tersebut.
Sesampainya di sana, dia melihat anjing penjaga villa yang sangat pintar dan penurut. Belakangan dia mengetahui anjing tersebut memiliki guru khusus untuk melatihnya dengan gaji Rp8 juta per bulan.
“Minggu depannya saya tidak ngajar ngaji dia lagi, karena saya mau ngajar anjing aja. Bayangin. Dia bayar mahal guru anjing dibandingkan guru ngaji,” kelakar Husein.
Selayang pandang Husein Jafar
Husein, 34, dikenal khalayak luas sebagai Habib Ja'far. Namanya melambung setelah menawarkan metode dakwah yang bisa dibilang khas di media sosial. Penerima penghargaan Fortune Indonesia 40 Under 40 2023 itu selalu mengusung label “Islam Cinta”—yang mengingatkan orang pada Tasawuf Mazhab Cinta yang diusung pendiri Penerbit Mizan, Haidar Bagir.
Dia berpandangan generasi muda sekarang terbentur pada dua ekstrem: “Kalau bukan generasi yang tidak peduli akan agama, ya, generasi hijrah,” katanya.
Dengan medium kanal digital, dia memutuskan tidak neko-neko. Apalagi tujuan dakwahnya adalah anak-anak muda yang sungguh emoh didekati secara kaku. Husein ikut menyesuaikan penampilan zahirnya yang santai agar jarak antara dia dan jemaah digitalnya tidak terlampau renggang.
Lagipula, dia merasa tidak pantas mengenakan jubah karena dia semata penyambung lidah ulama alias cendekiawan muslim untuk generasi muda. Husein tidak lupa mengadopsi bahasa populer yang diselingi canda. Dia kadang tampil dengan stand-up comedian, bahkan musisi.Â


















