Jakarta, FORTUNE – Langkah Kementerian Perdagangan (Kemendag) menggenjot realisasi impor bawang putih sepanjang semester I-2026 hingga mencapai 71,88 persen dari alokasi belum sepenuhnya ampuh menekan lonjakan harga di tingkat konsumen. Kendati pasokan nasional bertambah pesat, hambatan distribusi serta tingginya biaya logistik di kawasan timur Indonesia—khususnya Maluku dan Papua—membuat disparitas harga antarwilayah masih melambung tinggi hingga akhir Juli 2026.
Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Nawandaru Dwi Putra, menyatakan volume impor bawang putih pada semester I-2026 naik sekitar 28 persen secara tahunan (year-on-year) ketimbang periode sama pada 2025. Perkembangan positif ini juga terefleksi pada percepatan pemenuhan kuota impor yang ditetapkan pemerintah.
"Hingga akhir Juli 2026, persentase realisasi impor terhadap alokasi sudah mencapai 71,88 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang baru 53,68 persen. Artinya, secara keseluruhan kinerja realisasi impor tahun ini memang lebih baik dibandingkan tahun lalu," ujar Nawandaru dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah, Senin (27/7).
Ia menambahkan, tren peningkatan realisasi impor secara akumulatif dari Januari hingga Juli 2026 secara konsisten mencatatkan performa lebih tinggi dibandingkan dengan pergerakan bulanan pada tahun sebelumnya.
Meski akselerasi impor berjalan optimal, dampaknya terhadap penurunan harga eceran belum merata secara nasional. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Ketersediaan dan Perkembangan Harga Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag per 24 Juli 2026, harga rata-rata nasional bawang putih jenis Honan melandai ke tingkat Rp37.751 per kilogram, atau terkoreksi 3,61 persen dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Penurunan harga yang memadai terakomodasi di wilayah non-Maluku dan Papua. Di zona ini, harga eceran Rp36.537 per kilogram (turun 3,79 persen month-on-month). Angka tersebut berhasil menembus 3,85 persen di bawah Harga Acuan (HA) pemerintah yang dipatok Rp38.000 per kilogram.
Sebaliknya, ketimpangan pasokan masih membayangi kawasan timur Indonesia. Di Provinsi Maluku dan Papua, harga eceran bawang putih tercatat membubung hingga Rp63.461 per kilogram. Walaupun sempat mengalami penurunan tipis 0,73 persen secara bulanan, nominal tersebut masih berada 58,65 persen di atas harga acuan khusus wilayah tersebut yang ditetapkan sebesar Rp40.000 per kilogram.
Tingginya komoditas ini di wilayah timur menjadi pemicu utama yang menahan laju penurunan harga secara agregat.
"Kenaikan harga di wilayah Maluku dan Papua memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap tingginya harga bawang putih secara nasional," kata Nawandaru.
