Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Indef: Data Center Berpotensi Jadi Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi RI
ilustrasi pusat data (magnific.com/DC Studio)
  • Sektor informasi dan komunikasi tumbuh 6,97 persen pada kuartal II-2026, ditopang aktivitas ekonomi digital dan penambahan kapasitas pusat data.
  • Indef menilai pusat data berpotensi mendorong PDB serta investasi, tetapi industrinya padat modal dan membutuhkan tenaga kerja berketerampilan tinggi.
  • Sejumlah emiten dan grup usaha memperluas bisnis pusat data; Indef menekankan peningkatan kompetensi pekerja lokal agar manfaat investasi dan lapangan kerja lebih besar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Pertumbuhan sektor informasi dan komunikasi dinilai semakin berperan dalam menopang perekonomian Indonesia di tengah perlambatan sektor berbasis barang. Berkembangnya ekonomi digital, termasuk investasi di pusat data (data center), diperkirakan akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru, meski industri tersebut masih menghadapi tantangan dari sisi ketersediaan tenaga kerja terampil.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 semakin ditopang sektor nontradable atau jasa. Salah satu sektor yang mencatatkan pertumbuhan tinggi adalah informasi dan komunikasi (infokom), yang tumbuh 6,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Pertumbuhan ekonomi kita yang terjadi pada kuartal kedua itu lebih berpihak kepada sektor non tradable atau sektor yang bukan penghasil barang secara riil, barang nilai tambah, atau manufaktur. Jadi, sektor non tradable atau jasa itu tumbuhnya cukup tinggi," ujar Ahmad Heri Firdaus dalam diskusi publik bertajuk Di Balik Pertumbuhan 5,29%: Kuat di Angka, Rapuh di Fondasi? di Jakarta, Kamis (6/8).

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan sektor infokom ditopang meningkatnya aktivitas ekonomi digital, termasuk bertambahnya kapasitas pusat data. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Moh. Edy Mahmud menyebut kinerja sektor tersebut didorong semakin luasnya pemanfaatan layanan telekomunikasi di berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, perdagangan, hingga sektor lainnya.

Menurut Indef, perkembangan tersebut membuka peluang investasi baru, terutama pada bisnis pusat data yang menjadi fondasi infrastruktur ekonomi digital. Peneliti Indef Izzudin Al Farras menilai sektor infokom berpotensi memberikan kontribusi lebih besar terhadap produk domestik bruto (PDB) sekaligus menarik investasi, termasuk dari investor asing.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa karakter industri pusat data berbeda dengan sektor manufaktur karena lebih mengandalkan investasi modal besar dibandingkan penyerapan tenaga kerja.

"Data center membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan tinggi. Nantinya, industri data center berpeluang merekrut tenaga kerja asing," kata Farras.

Ia menilai kebutuhan tenaga kerja asing dapat meningkat apabila kualitas dan kompetensi sumber daya manusia dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan industri.

"Kalau itu tidak bisa dipenuhi oleh tenaga kerja lokal maka memang mau tidak mau data center yang beroperasi di Indonesia harus merekrut tenaga kerja asing. Secara regulasi diperbolehkan, tetapi kita sekali lagi harus menimbang berbagai dampak," ujarnya

Di tengah prospek tersebut, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia mulai memperluas investasi pada bisnis pusat data. Salah satunya PT NexAI Digital Infrastruktur Tbk (MGLV), yang bertransformasi dari bisnis peralatan rumah tangga menjadi perusahaan yang berfokus pada pengembangan data center.

Selain itu, PT Dunia Virtual Online Tbk (AREA) mengembangkan bisnis pusat data hyperscale dan fasilitas teleport, sedangkan PT Indointernet Tbk (EDGE) memperkuat layanan pusat data, komputasi awan (cloud), konektivitas, dan layanan terkelola. PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT) juga mengembangkan bisnis pusat data yang dipadukan dengan layanan managed services dan perdagangan besar komputer.

Bisnis pusat data juga menjadi salah satu fokus PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melalui ekosistem Danantara Indonesia, serta Grup Lippo melalui PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) bersama anak usahanya, PT Graha Teknologi Nusantara (GTN).

Sementara itu, Grup Salim mengembangkan bisnis tersebut melalui PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang bergerak di layanan colocation dan pusat data. Di sisi lain, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang terafiliasi Grup Sinarmas turut memperluas portofolio usahanya ke bisnis pusat data dan layanan internet, melengkapi lini bisnis yang telah dimiliki di sektor energi, properti, telekomunikasi, dan investasi.

Prospek pertumbuhan ekonomi digital diperkirakan akan terus meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur pusat data di Indonesia. Namun, Indef menilai penguatan kualitas tenaga kerja domestik menjadi faktor penting agar peluang investasi tersebut juga mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian nasional melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kapasitas industri dalam negeri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article