Inflasi Juni 2026 0,44 persen, Dipicu Harga BBM dan Tiket Pesawat

- Inflasi Juni 2026 naik 0,44 persen dipicu kenaikan harga BBM nonsubsidi dan tarif angkutan udara selama libur sekolah, dengan kelompok transportasi jadi penyumbang terbesar.
- Secara tahunan, inflasi mencapai 3,34 persen, melampaui proyeksi pasar; kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama dengan inflasi 4,67 persen.
- BPS mencatat seluruh komponen inflasi meningkat: inti 2,76 persen, administered prices 3,43 persen, dan volatile food tertinggi 5,58 persen akibat lonjakan harga pangan utama.
Jakarta, FORTUNE — Laju inflasi kembali meningkat pada Juni 2026 seiring naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dan tarif angkutan udara selama musim libur sekolah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi bulanan mencapai 0,44 persen (month-to-month/mtm), sehingga inflasi sejak awal tahun (year-to-date/ytd) mencapai 1,79 persen.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan pada Juni dengan tingkat inflasi mencapai 2,29 persen dan memberikan andil 0,28 persen terhadap inflasi nasional.
Komoditas yang paling dominan berasal dari kenaikan harga bensin dengan andil 0,21 persen, diikuti tarif angkutan udara sebesar 0,05 persen, serta oli mesin sebesar 0,01 persen.
"Inflasi bensin dipicu oleh kenaikan harga beberapa BBM nonsubsidi. Sementara kenaikan tarif angkutan udara didorong meningkatnya permintaan seiring periode liburan sekolah pada Juni ini," kata Ateng dalam konferensi pers yang disiarkan secara virtual, Rabu (1/7).
Kenaikan harga BBM nonsubsidi pada awal Juni berdampak langsung terhadap biaya transportasi masyarakat. Di saat yang sama, meningkatnya mobilitas selama libur sekolah mendorong maskapai menaikkan tarif penerbangan sehingga turut memperbesar tekanan inflasi.
Inflasi tahunan tembus 3,34 persen
Secara tahunan (year-on-year/yoy), BPS mencatat inflasi Juni 2026 mencapai 3,34 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei yang sebesar 3,08 persen sekaligus melampaui proyeksi konsensus pasar yang memperkirakan inflasi berada di kisaran 3,2 persen.
Kenaikan tersebut tercermin dari Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 111,89 pada Juni 2026.
Menurut Ateng, penyumbang terbesar inflasi tahunan berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi 4,67 persen dengan kontribusi 1,36 persen terhadap inflasi nasional.
"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau terutama ikan segar, beras, minyak goreng, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, sigaret kretek mesin, dan bawang merah," ujarnya.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mencatat kenaikan harga cukup tinggi, yakni inflasi 10,10 persen, dengan andil 0,69 persen. Peningkatan tersebut terutama dipengaruhi oleh naiknya harga emas dan perhiasan.
Sementara itu, kelompok transportasi secara tahunan mengalami inflasi 4,57 persen dengan kontribusi 0,55 persen. Selain bensin dan tarif angkutan udara, inflasi kelompok ini juga dipengaruhi kenaikan harga mobil, sepeda motor, dan pelumas atau oli mesin.
BPS mencatat seluruh komponen pembentuk inflasi mengalami kenaikan pada Juni.
Komponen inflasi inti tercatat sebesar 2,76 persen secara tahunan, didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, dan biaya pendidikan perguruan tinggi.
Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi 3,43 persen. Kenaikan tersebut terutama dipicu oleh naiknya harga bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, serta bahan bakar rumah tangga.
Adapun, komponen harga bergejolak (volatile food) mencatat inflasi tertinggi, yakni 5,58 persen secara tahunan. Komoditas penyumbang utamanya meliputi beras, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit, dan bawang merah.
















