Jakarta, FORTUNE - Serangan udara Israel yang menargetkan pusat distribusi energi utama di Teheran pada Sabtu malam telah memicu kebakaran hebat dan fenomena hujan asam beracun. Laporan Fortune menyebutkan bahwa penduduk ibu kota Iran itu terbangun dengan langit yang tertutup asap hitam pekat setelah depo bahan bakar vital yang melayani salah satu kota terbesar di Timur Tengah tersebut hangus terbakar.
Menteri Energi Israel, Eli Cohen, mengonfirmasi serangan tersebut dan menyatakan bahwa fasilitas yang dihantam merupakan penyokong operasional militer Iran. Dalam wawancara dengan radio 103fm Israel, Cohen mewanti-wanti bahwa kilang minyak dan pembangkit listrik lainnya tetap berada dalam daftar target dalam beberapa hari mendatang.
Dampak lingkungan dari serangan ini dilaporkan sangat luas. Berdasarkan laporan TIME, hujan berwarna hitam yang mengandung residu minyak mengguyur wilayah Teheran hingga radius puluhan kilometer. Kianoosh (44), seorang insinyur lokal, memberikan kesaksian kepada TIME bahwa "hujan hitam" tersebut bahkan mencapai wilayah Tajrish yang letaknya sangat jauh dari lokasi tangki minyak.
Red Crescent Society Iran merilis peringatan darurat yang melarang warga meninggalkan rumah karena tingginya tingkat polusi. Dikutip dari Fortune, terdapat risiko penyakit paru-paru dan kulit yang serius akibat penguapan hujan asam tersebut. "Rasanya seperti gas air mata encer di udara. Mengiritasi mata dan saya terus-menerus perlu berdeham," kata Leila, 27, seorang guru di Teheran kepada TIME.
Eskalasi ini menandai babak baru perang infrastruktur. Melalui laporan Fortune, terungkap bahwa ketegangan juga meluas ke fasilitas desalinasi air. Iran menuduh Amerika Serikat menyerang pabrik pengolah air di Pulau Qeshm, sementara Bahrain menuding Teheran melakukan serangan balik terhadap fasilitas serupa di wilayah mereka.
Di Washington, Presiden Donald Trump memberikan peringatan melalui platform Truth Social. Sebagaimana dilansir TIME, Trump menulis bahwa AS sedang mempertimbangkan "penghancuran total" terhadap area dan kelompok di Iran yang sebelumnya tidak masuk dalam target operasi.
Gempuran terhadap infrastruktur sipil ini terus memberikan sentimen negatif pada pasar global. Di tengah kekacauan tersebut, media pemerintah Iran menyatakan bahwa suksesi kepemimpinan sedang berlangsung untuk menggantikan Ayatullah Ali Khamenei yang tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari lalu.
Data dari Human Rights Activist News Agency yang berbasis di Washington menunjukkan dampak kemanusiaan yang fatal: sebanyak 1.205 warga sipil, termasuk 194 anak-anak, telah tewas sejak perang pecah pada akhir Februari. Selain itu, sekitar 10.000 struktur sipil dilaporkan mengalami kerusakan berat.
