Jakarta, FORTUNE - Fenomena El Nino diperkirakan masih akan menjadi ancaman bagi perekonomian global hingga tahun depan. JPMorgan memperkirakan Indonesia termasuk negara yang paling rentan terdampak, terutama akibat potensi lonjakan harga pangan yang dapat memicu kenaikan inflasi.
Dalam laporan terbarunya, JPMorgan menyebut peluang episode El Nino yang saat ini berlangsung berkembang menjadi very strong El Nino atau super El Nino pada akhir tahun mencapai 81 persen. Bahkan, terdapat kemungkinan sebesar 97 persen fenomena tersebut berlanjut hingga tahun depan.
Jika skenario itu terjadi, El Nino diperkirakan menjadi salah satu yang terkuat dalam beberapa dekade terakhir dan berisiko mengganggu produksi pangan serta rantai pasok dunia.
Melansir Reuters, analis JPMorgan memperkirakan super El Nino dapat mendongkrak inflasi pangan global hingga sekitar 0,7 poin persentase pada puncaknya. Dampaknya umumnya mulai terasa sekitar empat hingga delapan bulan setelah fenomena cuaca tersebut berkembang.
Tekanan terhadap harga pangan diperkirakan semakin besar apabila El Nino terjadi bersamaan dengan kenaikan harga energi akibat konflik Iran. Lonjakan biaya solar, pupuk, dan kemasan pangan berpotensi membuat inflasi pangan global meningkat hampir dua kali lipat menjadi sekitar 1,3–1,5 poin persentase.
“Inflasi pangan yang diperkirakan melonjak hingga 5 persen secara tahunan pada paruh pertama 2027 diproyeksikan menyumbang tambahan sekitar 0,6 poin persentase terhadap inflasi utama (headline inflation) global. Akibatnya, tren penurunan inflasi yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun depan sebesar 0,3 poin persentase berpotensi tertahan,” demikian diungkap para analis JPMorgan.
