Penyebab Gelombang Panas Ekstrem di Eropa, Bukan El Nino

Gelombang panas ekstrem di Eropa tahun 2026 disebabkan oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia dengan suhu siang hari menembus lebih dari 40 derajat Celcius.
Kelembapan udara mencapai rekor tertinggi membuat tubuh sulit mendingin dan meningkatkan risiko heat stress di banyak kota besar Eropa.
Eropa belum siap menghadapi suhu ekstrem karena minimnya penggunaan AC dan infrastruktur adaptif.
Jakarta, FORTUNE – Gelombang panas melanda kawasan Eropa, bahkan cuaca ekstrem tersebut mencatatkan rekor sebagai yang terpanas dan terlembap sepanjang sejarah pengamatan.
Berdasarkan studi World Weather Attribution (WWA), fenomena El Nino yang sedang berlangsung tidak berperan dalam terjadinya kondisi ekstrem tersebut. Para ilmuwan yakin penyebab gelombang panas Eropa dipengaruhi oleh pemanasan global.
“Peristiwa ini tidak mungkin terjadi pada Juni tanpa adanya perubahan iklim,” ungkap Theodore Keeping dari Imperial College London, dikutip New Scientist.
Para ilmuwan dan pakar memperingatkan gelombang panas ekstrem tahun ini di Eropa dikhawatirkan dapat menyebabkan ribuan kematian.
Table of Content
Penyebab utama gelombang panas ekstrem di Eropa
Sejumlah studi menyimpulkan gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada Juni 2026 diperparah oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Salah satu pemicunya adalah terbentuk sistem tekanan udara tinggi (high-pressure system) yang bertahan selama beberapa minggu di atas Eropa Barat, sehingga memerangkap udara panas di permukaan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai heat dome atau kubah panas. Kondisi ini terjadi ketika tekanan udara tinggi menghalangi sirkulasi atmosfer sehingga udara panas terus terperangkap di lapisan bawah atmosfer.
Akibatnya, suhu siang hari di sejumlah wilayah melampaui 40 derajat Celcius, sementara suhu malam tetap tinggi sehingga tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan diri.
Para ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) menyatakan pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer selama puluhan tahun. Pemanasan global yang ditimbulkan membuat gelombang panas lebih sering terjadi, lebih intens, dan lebih lama dibandingkan beberapa dekade lalu.
Menurut analisis WWA, gelombang panas dengan intensitas seperti yang terjadi pada Juni 2026 hampir mustahil terjadi jika kondisi iklim masih seperti 50 tahun lalu. Studi tersebut juga menunjukkan suhu siang hari pada peristiwa serupa kini sekitar 3,5 derajat Celcius lebih tinggi dibandingkan gelombang panas pada 1976.
Kelembapan mencapai level tertinggi
Gelombang panas di Eropa semakin diperparah dengan tingkat kelembapan udara yang mencapai level tertinggi. Dalam kondisi ini, tubuh manusia semakin sulit untuk melepaskan panas dan produksi keringat menjadi kurang efektif dalam mendinginkan tubuh.
Indeks Wet Bulb Globe Temperature (WBGT) menunjukkan bahwa 45 persen dari sejumlah kota di Eropa melampaui ambang batas dan memecahkan rekor tingkat heat stress. Bahkan, tingkat kelembapan dapat melonjak 50 persen dengan suhu titik embun berkisar 20 derajat Celcius di banyak kota di Inggris.
Eropa belum siap menghadapi suhu ekstrem
Eropa merupakan kawasan yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia. Sejak tahun 1980-an, suhu di Eropa meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata suhu global menurut Copernicus Climate Service milik Uni Eropa.
Sayangnya, benua tersebut belum siap menghadapi dampak suhu tinggi. Mayoritas kawasan di Eropa belum mengadopsi penggunaan pendingin ruangan (AC) secara luas maupun infrastruktur adaptif untuk menghadapi cuaca panas ekstrem. Nyatanya, hanya sekitar 20 persen bangunan di Eropa yang dilengkapi dengan fasilitas AC.
Sebagian besar bangunannya masih mempertahankan arsitektur masa lalu untuk menahan panas agar ruangan tetap hangat saat musim dingin. Selain itu, pemasangan AC di bangunan lama juga tidak mudah dilakukan karena sangat dibatasi.
Dampak gelombang panas di Eropa
Cuaca ekstrem di Eropa berpotensi meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga serangan panas (heat stroke), terutama pada lansia, anak-anak, serta pekerja luar ruangan.
Sejumlah badan meteorologi di berbagai negara Eropa juga telah mengeluarkan peringatan terkait risiko panas ekstrem dalam minggu ini. Imbauan tersebut membuat berbagai kegiatan sekolah, tempat wisata, infrastruktur penting, dan aktivitas di luar ruangan dibatasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian tambahan telah tercatat di Eropa sejak 21 Juni 2026 akibat gelombang panas ekstrem. Krisis ini dinilai sebagai ancaman kesehatan serius yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi.
Para ilmuwan dan pakar memperingatkan bahwa gelombang panas serupa akan semakin sering terjadi. Mereka juga menekankan perlunya adaptasi serta pengurangan emisi karbon sebagai langkah utama menghadapi krisis iklim.
FAQ seputar penyebab gelombang panas Eropa
| Apa penyebab terjadinya gelombang panas? | Gelombang panas di Eropa disebabkan oleh kombinasi perubahan iklim global dan fenomena meteorologi kubah panas yang menciptakan tekanan tinggi, memerangkap udara panas, dan mencegahnya menyebar. |
| Apakah musim panas 2026 akan panas di Eropa? | Beberapa wilayah di Eropa diproyeksikan mengalami gelombang panas hebat pada 2026, dengan kisaran suhu mencapai 40 derajat Celcius. |
| Mengapa Eropa menjadi begitu panas? | Perubahan iklim menjadi penyebab utama gelombang panas di Eropa teras lebih intens. Hal ini meningkatkan intensitas, frekuensi, dan durasi cuaca ekstrem. |
















