INKA Tertekan Utang Rp4,7 Triliun, Rugi Rp670 Miliar

- INKA menghadapi tekanan keuangan dengan ekuitas negatif, pinjaman tidak berkelanjutan Rp4,7 triliun, dan kerugian mencapai Rp670 miliar.
- BP BUMN dan COO Danantara Dony Oskaria meminta INKA menjalankan turnaround serius melalui transformasi menyeluruh dengan tata kelola yang benar.
- Transformasi mencakup model bisnis, operasional, produksi, teknik, keuangan, dan budaya kerja untuk membangun INKA yang efisien, kompetitif, serta berkelanjutan.
Jakarta, FORTUNE - PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA menghadapi tekanan keuangan cukup berat.
Kondisi tersebut tecermin pada posisi ekuitas negatif, unsustain loan atau pinjaman yang tidak berkelanjutan mencapai Rp4,7 triliun, serta kerugian perusahaan yang telah mencapai Rp670 miliar.
Kondisi tersebut mendorong Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara untuk meminta INKA menjalankan transformasi menyeluruh.
Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, menilai perusahaan membutuhkan langkah turnaround yang serius agar kembali memiliki fondasi bisnis dan keuangan lebih sehat.
“Kami ingin melakukan turnaround. Dan turnaround itu hanya bisa dilakukan kalau kami punya komitmen yang sama ingin membuat perusahaan ini menjadi lebih baik, dengan governance yang benar,” kata Dony dalam keterangannya, Selasa (15/9).
Menurut Dony, persoalan INKA tidak dapat diselesaikan hanya melalui pembenahan keuangan. Transformasi harus mencakup model bisnis, tata kelola, budaya kerja, kualitas produksi, operasional, teknik, keuangan, hingga proses bisnis.
Seluruh pembenahan tersebut nantinya perlu dituangkan dalam grand plan transformasi yang terintegrasi sebagai acuan perbaikan perusahaan.
Langkah tersebut menjadi penting karena INKA memiliki posisi strategis sebagai perusahaan manufaktur kereta api nasional.
Perusahaan tidak hanya dituntut memperbaiki kinerja internal, tetapi juga diharapkan mampu menopang pengembangan industri perkeretaapian nasional, mendorong industrialisasi, dan menciptakan lapangan kerja.
Karena itu, transformasi INKA diarahkan tidak berhenti pada upaya keluar dari tekanan keuangan. Pemerintah ingin perusahaan memiliki model bisnis lebih kuat, efisien, kompetitif, dan mampu berkelanjutan dalam menghadapi persaingan industri perkeretaapian.
“Karena saya maunya kayak tadi kan Presiden maunya industri kereta api kita ini betul-betul maju,” kata Dony.




















