Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kemenkeu: Inflasi Maret Terjaga 3,5% Imbas Berbagai Insentif Ramadan
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu. (IDN Times/Triyan).
  • Kemenkeu menyebut inflasi Maret 2026 terkendali di 3,5 persen (yoy), turun dari Februari 4,8 persen berkat kebijakan pemerintah menjaga daya beli selama Ramadan dan Idulfitri.
  • Penurunan inflasi didorong oleh turunnya administered price ke 6,1 persen dan inflasi volatile food ke 4,2 persen meski permintaan pangan meningkat saat Lebaran.
  • Neraca perdagangan Februari 2026 surplus US$1,27 miliar dengan ekspor tumbuh positif hingga US$22,17 miliar, menandakan daya saing ekspor Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Kementerian Keuangan mengatakan bahwa terjaganya inflasi selama periode Ramadhan dan Idul Fitri didukung upaya Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan.

Dari sisi harga, di tengah tekanan permintaan di masa Ramadan dan Idul fitri, inflasi Maret 2026 tetap terkendali pada 3,5 persen (yoy), menurun dibandingkan Februari 2026 sebesar 4,8 persen (yoy), dipengaruhi penurunan inflasi pada seluruh komponen, terutama administered price dan volatile food

“Terjaganya inflasi selama periode Ramadan dan Idulfitri turut didukung upaya Pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai kebijakan, seperti insentif diskon transportasi, bantuan pangan, serta pengendalian inflasi dengan operasi pasar, intervensi harga, dan pengawasan distribusi,” ujar Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, dalam keterangannya, dikutip Kamis (2/4). 

Sementara itu, berkurangnya dampak base effect diskon listrik awal 2025 mendorong turunnya inflasi administered price ke level 6,1 persen (yoy) dari angka Februari 12,7 persen (yoy).

Berbagai kebijakan pengendalian inflasi pangan mendukung terkendalinya inflasi volatile food yang sedikit melambat mencapai 4,2 persen (yoy) di tengah tantangan cuaca ekstrem. 

Meskipun begitu, permintaan komoditas telur, daging ayam, ikan segar, dan daging sapi meningkat seiring momen Ramadan dan Idulfitri. Turunnya harga emas turut mendorong penurunan inflasi inti dari 2,6 persen (yoy) menjadi 2,5 persen (yoy). 

Sementara itu, kinerja perdagangan Indonesia pada Februari 2026 tetap melanjutkan tren surplus selama 70 bulan berturut-turut. 

Neraca perdagangan pada Februari 2026 mencatat surplus US$1,27 miliar, didukung oleh ekspor yang tetap tumbuh positif hingga US$22,17 miliar. 

Secara kumulatif Januari-Februari 2026, surplus perdagangan tercatat sebesar US$2,23 miliar dengan total ekspor mencapai US$44,32 miliar atau meningkat 2,19 persen (ctc), mencerminkan daya saing yang tetap terjaga di tengah dinamika global.

Kinerja ekspor tersebut antara lain didukung oleh komoditas unggulan seperti besi dan baja, lemak dan minyak hewan/nabati (termasuk CPO), serta bahan bakar mineral yang tetap memberikan kontribusi signifikan. Di sisi lain, peningkatan impor yang tumbuh 14,44 persen (ctc) didominasi oleh bahan baku/penolong dan barang modal, yang mengindikasikan menguatnya aktivitas produksi dan investasi domestik. 

“Struktur impor yang produktif ini memberikan sinyal positif bagi potensi peningkatan ekspor serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depan,” kata Fabrio.

Editorial Team