Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Konflik Timur Tengah Tekan Struktur Biaya Industri Hulu Plastik

Konflik Timur Tengah Tekan Struktur Biaya Industri Hulu Plastik
Ilustrasi Petrokimia (Pixabay.com/bulgariavratsaabandonedindustry)
Intinya Sih
  • Konflik di Timur Tengah menyebabkan gangguan pasokan nafta dan mendorong kenaikan biaya produksi industri hulu plastik di Indonesia.
  • Kemenperin bersama pelaku industri menyiapkan strategi diversifikasi sumber bahan baku, termasuk menjajaki pasokan dari luar Timur Tengah dan mengoptimalkan LPG serta plastik daur ulang.
  • Meskipun biaya naik, pemerintah memastikan pasokan plastik tetap aman dengan memperkuat koordinasi industri agar produksi dan ekspor tetap stabil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Konflik di kawasan Timur Tengah telah menekan struktur biaya industri hulu plastik di Indonesia. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai, gangguan pada rantai pasok global—khususnya bahan baku berbasis minyak—menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan biaya produksi pada sektor petrokimia.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, menjelaskan eskalasi konflik di kawasan tersebut telah memicu koreksi suplai nafta, bahan baku utama dalam industri petrokimia.

“Plastik merupakan produk turunan dari minyak bumi,” kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (8/4).

Nafta sendiri menjadi komponen penting dalam produksi resin plastik. Ketergantungan terhadap pasokan global, terutama dari wilayah Timur Tengah, membuat industri domestik rentan terhadap gejolak geopolitik.

Untuk meredam tekanan tersebut, Kementerian Perindustrian bersama pelaku industri petrokimia hulu mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah diversifikasi sumber bahan baku.

Menurut Agus, industri kini aktif menjajaki pasokan nafta dari kawasan lain di luar Timur Tengah guna mengurangi ketergantungan pada satu wilayah. Selain itu, penggunaan LPG juga mulai dioptimalkan sebagai bahan baku alternatif atau penyangga (buffer) dalam proses produksi.

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pemanfaatan plastik daur ulang sebagai substitusi bahan baku.

Harga naik, pasokan dijaga

Meski tekanan biaya tidak terhindarkan, Agus memastikan ketersediaan produk plastik di pasar tetap aman. Berdasarkan data Indeks Kepercayaan Industri (IKI), subsektor industri kemasan pada Maret 2026 masih menunjukkan ekspansi yang tinggi, menandakan permintaan dan produksi tetap kuat.

“Memang terjadi kenaikan harga di tingkat produksi akibat bahan baku global, tetapi ketersediaan tetap terjaga. Masyarakat dan industri hilir tidak perlu panik,” kata Agus.

Ia menegaskan, pemerintah terus mengoptimalkan berbagai kanal pasokan alternatif untuk memastikan tidak terjadi kekosongan stok di pasar.

Dalam menghadapi tekanan rantai pasok global, Kementerian Perindustrian juga memperkuat koordinasi dengan pelaku industri manufaktur. Langkah ini bertujuan untuk memastikan sektor industri tetap resilien, baik dalam memenuhi kebutuhan domestik maupun menjaga kinerja ekspor.

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in News

See More