Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Luhut Minta BYD Bangun Pengolahan Limbah Baterai EV di Indonesia
Komponen didalam baterai EV ( cnbc.com)
  • Luhut meminta BYD membangun fasilitas pengolahan dan daur ulang baterai EV di Indonesia agar material strategis seperti nikel dapat digunakan kembali.
  • Pabrik BYD di Subang berkapasitas hingga 150.000 kendaraan per tahun, dengan investasi sekitar Rp11,2 triliun, sebagai bagian pengembangan industri EV nasional.
  • Pemerintah mendorong kandungan lokal, joint venture, industri pendukung, dan penyerapan tenaga kerja, sambil menjaga kebijakan tetap menarik bagi investor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2023

Pemerintah Indonesia melakukan penjajakan investasi dengan BYD.

25 Mei 2023

Pemerintah Indonesia dan BYD menandatangani MoU di kantor pusat BYD di Shenzhen, China, untuk menjajaki potensi investasi dan pengembangan kendaraan listrik.

Kurang dari setahun setelah penjajakan tersebut

BYD resmi masuk pasar Indonesia dan kemudian memutuskan membangun fasilitas manufaktur di Subang.

Kamis (3/9)

Luhut meminta BYD membangun industri pengolahan dan daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia saat peresmian fasilitas manufaktur BYD di Subang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Luhut meminta BYD membangun industri pengolahan dan daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia.
  • Who?
    Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan dan produsen kendaraan listrik asal China, BYD.
  • Where?
    Permintaan disampaikan saat peresmian fasilitas manufaktur BYD di Subang, Jawa Barat, yang disiarkan secara virtual.
  • When?
    Kamis (3/9).
  • Why?
    Fasilitas recycling baterai dinilai penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik dan memperoleh manfaat lebih besar dari ekosistem industrinya.
  • How?
    Melalui pembangunan pengolahan baterai dan kerja sama dengan perusahaan Indonesia melalui skema joint venture.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pak Luhut meminta BYD membantu membuat tempat untuk mengolah dan memakai lagi baterai mobil listrik di Indonesia. Ia bicara saat pabrik BYD di Subang diresmikan. BYD sudah punya pabrik yang bisa membuat banyak kendaraan. Pak Luhut ingin Indonesia bukan hanya tempat menjual mobil, tetapi juga ikut membuat dan mengolah baterai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Dorongan pengolahan dan daur ulang baterai membuka peluang pemanfaatan kembali bahan baku strategis dari baterai yang tidak digunakan. Kehadiran fasilitas manufaktur BYD juga disebut membuka peluang bagi industri pendukung lokal, perusahaan lokal dalam rantai pasok, serta keterlibatan anak-anak muda Indonesia dalam perkembangan industri kendaraan listrik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, meminta produsen kendaraan listrik asal Cina, BYD, ikut membangun industri pengolahan dan daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Menurut Luhut, keberadaan fasilitas pendaurulangan baterai penting untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tapi juga beroleh manfaat lebih besar dari ekosistem industri tersebut.

Luhut menilai pengolahan kembali baterai bekas kendaraan listrik dapat memungkinkan bahan baku strategis, termasuk nikel, diekstraksi dan digunakan kembali. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya mineral Indonesia dapat berlangsung lebih panjang dalam rantai industri kendaraan listrik.

Ia menyebut BYD saat ini telah memiliki kemampuan untuk mengekstraksi kembali sebagian besar material dari baterai yang sudah tidak digunakan.

“Setahu saya mereka sudah bisa mengekstrak 99 persen, kalau tidak keliru, litium atau nikelnya dari baterai yang sudah selesai dipakai,” kata Luhut saat peresmian fasilitas manufaktur BYD di Subang, Jawa Barat, yang disiarkan secara virtual, Kamis (3/9).

Pabrik BYD di Subang menjadi tonggak baru pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun.

Investasi BYD di Indonesia mencapai sekitar Rp11,2 triliun. Saat ini, perusahaan memasarkan sejumlah model kendaraan listrik di Indonesia, antara lain Atto 1, Atto 3, Dolphin, Seal, Sealion 7, M6, dan M6 Dual Mode (DM).

Bagi Luhut, kehadiran pabrik tersebut harus menjadi awal terbentuknya ekosistem industri lebih luas. BYD, kata dia, telah membuka peluang bagi industri pendukung dan perusahaan lokal untuk masuk ke dalam rantai pasoknya.

“Mereka juga membuka peluang membangun industri-industri pendukung lokal konten di sekitar ini,” katanya.

Luhut juga mengapresiasi keterlibatan anak-anak muda Indonesia yang disebutnya telah mendapat kesempatan dan akomodasi dari BYD. Menurut dia, keterlibatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang mendukung perkembangan industri kendaraan listrik nasional.

Selain pengolahan baterai, Luhut mengatakan BYD terbuka membangun kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia melalui skema joint venture. Ia menilai keterbukaan tersebut penting guna memperluas manfaat investasi BYD bagi industri dalam negeri.

Sejumlah sektor produksi juga mulai diarahkan untuk memiliki kandungan lokal. Luhut mengatakan produksi bus yang telah berjalan di Jawa Tengah dan rencana pengembangan kendaraan komersial seperti truk sebagai bagian dari upaya tersebut.

“Ini saya kira semua akan [didukung] kontan lokal, jadi akan menciptakan satu ekosistem dan lapangan kerja yang baik,” ujarnya.

Luhut menegaskan Indonesia tidak boleh berhenti pada posisi sebagai pasar bagi BYD maupun produsen kendaraan listrik lainnya. Pemerintah, kata dia, ingin Indonesia menjadi bagian dari ekosistem industri, mulai dari produksi kendaraan, komponen, baterai hingga pengolahan kembali baterai setelah masa pakainya berakhir.

“Kita tidak mau [hanya menjadi pasar] saja, tapi harus [bagian dari] ekosistem itu,” katanya.

Menurut Luhut, dorongan peningkatan kandungan lokal tersebut telah dibicarakan bersama Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. Keduanya sepakat mendorong peningkatan keterlibatan industri domestik dalam investasi BYD.

Namun, Luhut mengingatkan agar kebijakan peningkatan kandungan lokal tetap mempertimbangkan kepentingan investor. Pemerintah tidak boleh menggunakan posisi regulasinya untuk memaksakan persyaratan yang justru mengurangi daya tarik investasi.

“Kedua pihak [harus bisa] menikmati hasil program itu,” ujarnya.

Masuknya BYD sendiri berawal dari penjajakan investasi yang dilakukan pemerintah Indonesia pada 2023. Pada 25 Mei 2023, pemerintah Indonesia dan BYD menandatangani MoU di kantor pusat BYD di Shenzhen, Cina, untuk menjajaki potensi investasi, termasuk pengembangan kendaraan listrik.

Pertemuan tersebut disaksikan langsung oleh Luhut, yang saat itu masih menjabat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi serta pendiri sekaligus CEO BYD, Wang Chuanfu. MoU diteken Deputi Koordinator Bidang Transportasi dan Infrastruktur Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin, dan General Manager BYD Asia Pasifik, Liu Xueliang.

Kurang dari setahun setelah penjajakan tersebut, BYD resmi masuk pasar Indonesia dan kemudian memutuskan membangun fasilitas manufaktur di Subang.

Curated For You

Editorial Team

Related Article