Jakarta, FORTUNE - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, meminta produsen kendaraan listrik asal Cina, BYD, ikut membangun industri pengolahan dan daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia.
Menurut Luhut, keberadaan fasilitas pendaurulangan baterai penting untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tapi juga beroleh manfaat lebih besar dari ekosistem industri tersebut.
Luhut menilai pengolahan kembali baterai bekas kendaraan listrik dapat memungkinkan bahan baku strategis, termasuk nikel, diekstraksi dan digunakan kembali. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya mineral Indonesia dapat berlangsung lebih panjang dalam rantai industri kendaraan listrik.
Ia menyebut BYD saat ini telah memiliki kemampuan untuk mengekstraksi kembali sebagian besar material dari baterai yang sudah tidak digunakan.
“Setahu saya mereka sudah bisa mengekstrak 99 persen, kalau tidak keliru, litium atau nikelnya dari baterai yang sudah selesai dipakai,” kata Luhut saat peresmian fasilitas manufaktur BYD di Subang, Jawa Barat, yang disiarkan secara virtual, Kamis (3/9).
Pabrik BYD di Subang menjadi tonggak baru pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun.
Investasi BYD di Indonesia mencapai sekitar Rp11,2 triliun. Saat ini, perusahaan memasarkan sejumlah model kendaraan listrik di Indonesia, antara lain Atto 1, Atto 3, Dolphin, Seal, Sealion 7, M6, dan M6 Dual Mode (DM).
Bagi Luhut, kehadiran pabrik tersebut harus menjadi awal terbentuknya ekosistem industri lebih luas. BYD, kata dia, telah membuka peluang bagi industri pendukung dan perusahaan lokal untuk masuk ke dalam rantai pasoknya.
“Mereka juga membuka peluang membangun industri-industri pendukung lokal konten di sekitar ini,” katanya.
Luhut juga mengapresiasi keterlibatan anak-anak muda Indonesia yang disebutnya telah mendapat kesempatan dan akomodasi dari BYD. Menurut dia, keterlibatan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang mendukung perkembangan industri kendaraan listrik nasional.
Selain pengolahan baterai, Luhut mengatakan BYD terbuka membangun kerja sama dengan perusahaan-perusahaan Indonesia melalui skema joint venture. Ia menilai keterbukaan tersebut penting guna memperluas manfaat investasi BYD bagi industri dalam negeri.
Sejumlah sektor produksi juga mulai diarahkan untuk memiliki kandungan lokal. Luhut mengatakan produksi bus yang telah berjalan di Jawa Tengah dan rencana pengembangan kendaraan komersial seperti truk sebagai bagian dari upaya tersebut.
“Ini saya kira semua akan [didukung] kontan lokal, jadi akan menciptakan satu ekosistem dan lapangan kerja yang baik,” ujarnya.
Luhut menegaskan Indonesia tidak boleh berhenti pada posisi sebagai pasar bagi BYD maupun produsen kendaraan listrik lainnya. Pemerintah, kata dia, ingin Indonesia menjadi bagian dari ekosistem industri, mulai dari produksi kendaraan, komponen, baterai hingga pengolahan kembali baterai setelah masa pakainya berakhir.
“Kita tidak mau [hanya menjadi pasar] saja, tapi harus [bagian dari] ekosistem itu,” katanya.
Menurut Luhut, dorongan peningkatan kandungan lokal tersebut telah dibicarakan bersama Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. Keduanya sepakat mendorong peningkatan keterlibatan industri domestik dalam investasi BYD.
Namun, Luhut mengingatkan agar kebijakan peningkatan kandungan lokal tetap mempertimbangkan kepentingan investor. Pemerintah tidak boleh menggunakan posisi regulasinya untuk memaksakan persyaratan yang justru mengurangi daya tarik investasi.
“Kedua pihak [harus bisa] menikmati hasil program itu,” ujarnya.
Masuknya BYD sendiri berawal dari penjajakan investasi yang dilakukan pemerintah Indonesia pada 2023. Pada 25 Mei 2023, pemerintah Indonesia dan BYD menandatangani MoU di kantor pusat BYD di Shenzhen, Cina, untuk menjajaki potensi investasi, termasuk pengembangan kendaraan listrik.
Pertemuan tersebut disaksikan langsung oleh Luhut, yang saat itu masih menjabat Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi serta pendiri sekaligus CEO BYD, Wang Chuanfu. MoU diteken Deputi Koordinator Bidang Transportasi dan Infrastruktur Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin, dan General Manager BYD Asia Pasifik, Liu Xueliang.
Kurang dari setahun setelah penjajakan tersebut, BYD resmi masuk pasar Indonesia dan kemudian memutuskan membangun fasilitas manufaktur di Subang.
