Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Mengenal Gastrodiplomasi, Keunikan dan Dampaknya bagi Negara
Ilustrasi Tempe Goreng/Dok. Pixabay/dyahahsina

Jakarta, FORTUNE – Apakah Anda mendengar istilah gastrodiplomasi? diplomasi ini disebut kerap menggunakan makanan sebagai elemen utama. 

Diplomasi diartikan sebagai urusan atau penyelenggaraan hubungan resmi antar satu negara dengan negara lain yang dimaksudkan untuk mencapai kepentingan negara.

Diplomasi bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas, misalnya diplomasi yang dilakukan melalui perdagangan, diplomasi melalui pakta pertahanan, maupun diplomasi yang dilakukan melalui pertukaran budaya. Jenis terakhir yang disebut, salah satunya dikenal sebagai gastrodiplomasi.

Untuk memahami lebih lanjut tentang gastrodiplomasi, Fortune Indonesia akan mengulasnya dengan mengutip dictio.id.

Pengertian

Gastrodiplomasi adalah praktik komunikasi state-to-public atau diplomasi yang menggunakan makanan sebagai elemen utama untuk memberikan pemahaman budaya kuliner suatu negara kepada publik asing. Kata gastrodiplomasi merupakan gabungan dari kata gastronomi dan diplomasi. Gastronomi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai tata boga atau makanan.

Praktik gastrodiplomasi pertama kali dikemukakan oleh Paul Rockower yang menyatakan bahwa gastrodiplomasi merupakan cara terbaik untuk memenangkan hati dan pikiran melalui perut. Menurutnya, penggunaan gastrodiplomasi secara formal bisa menjadi program resmi pemerintah yang digunakan untuk mengenalkan makanan khas negara sebagai tujuan dari diplomasi suatu negara.

Gastrodiplomasi merupakan irisan dari diplomasi publik dan diplomasi budaya. Sebab, gastrodiplomasi membutuhkan peran kuliner sebagai aset budaya berwujud dan memerlukan keterlibatan publik baik sebagai aktor dan sasaran vital.

Dengan demikian, definisi gastrodiplomasi bisa dirumuskan sebagai bagaimana suatu negara melaksanakan diplomasi budaya dengan cara mempromosikan masakan khas masing-masing negara, sehingga dapat meningkatkan kesadaran publik terkait suatu negara. Cara ini juga membantu negara asing yang enggan untuk melakukan perjalanan wisata, akhirnya mengenal dan membiasakan diri terhadap budaya negara lain melalui pengalaman kuliner.

Karakteristik

Gastrodiplomasi memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dengan praktek diplomasi lainnya. Paul Rockower mengkarakteristikan gastrodiplomasi sebagai berikut:

  1. Berdiplomasi publik yang mencoba berkomunikasi mengenai budaya kuliner dengan publik asing dengan cara yang lebih luas, dan memfokuskan diri pada publik yang lebih luas dari pada level elit saja.
  2. Praktek gastrodiplomasi ini berusaha untuk meningkatkan citra makanan bangsa melalui diplomasi budaya yang kemudian menyoroti dan mempromosikan kesadaran dan pemahaman budaya kuliner nasional kepada publik asing.
  3. Gastrodiplomasi berupa hubungan state to public relations.

Beda dengan diplomasi kuliner

Dalam perjalanannya, istilah gastrodiplomasi sering dianggap mirip dengan diplomasi kuliner. Keduanya memang menggunakan makanan sebagai alat untuk berdiplomasi, namun dalam penerapannya terdapat perbedaan mendasar dalam metode yang digunakan.

Diplomasi kuliner menggunakan makanan sebagai tata cara formal yang bertujuan mempererat hubungan antara beberapa pihak. Biasanya, diplomasi ini dilakukan dengan cara mengajak para pihak terkait untuk makan bersama sambil membicarakan berbagai isu yang perlu dibicarakan. Sementara, gastrodiplomasi adalah upaya diplomasi publik yang lebih luas untuk mengkomunikasikan budaya kuliner ke publik asing dengan cara yang lebih menyebar, dan mencoba untuk mempengaruhi khalayak yang lebih luas daripada para elit tingkat tinggi.

Strategi

Berdasarkan tiga karakteristik ini, maka terdapat sejumlah strategi yang bisa dilakukan untuk melakukan gastrodiplomasi:

  1. Melalui media dan pendidikan
    Penggunaan strategi melalui media dalam gastrodiplomasi ini adalah tindakan yang dilakukan oleh pemerintah sebagai sebuah metode membangun hubungan baik dengan publik melalui media massa yang nantinya akan berdampak pada pemberitaan informasi atau pesan dalam media itu sendiri guna menciptakan citra yang positif dari makanan di sebuah negara. Sebagai contoh, hal ini digunakan oleh pemerintah Korea Selatan untuk memperluas popularitas makanan khas Korea.
  2. Pemasaran produk dan penggunaan event
    Strategi berikutnya adalah pemasaran dan pemanfaatan event. Biasanya dilakukan dengan cara membangun restoran-restoran di luar negeri dan meningkatkan ekspor produk makanan. Strategi ini memenuhi objek utama dari gastrodiplomasi, yaitu meningkatkan ekspor produk terkait makanan di suatu negara.
  3. Membangun kerja sama dengan organisasi di luar negeri
    Strategi ini digunakan oleh pemerintah untuk menjalin hubungan antara negara dengan publik melalui kerjasama dengan organisasi di luar negeri. Strategi ini meliputi membangun kerjasama dengan organisasi yang memiliki tujuan dan kepentingan yang sama untuk memperluas penyampaian pesan dan jaringan.

Demikianlah ulasan tentang apa yang dimaksud dengan gastrodiplomasi, semoga bermanfaat.

Editorial Team

Related Article