Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Hustle Culture, Budaya Gila Kerja, Ciri, dan Cara Menghindarinya

Hustle Culture, Budaya Gila Kerja, Ciri, dan Cara Menghindarinya
Ilustrasi pekerjaan pandemi. (Pixabay/Comfreak)
Share Article

Jakarta, FORTUNE – Kehidupan di zaman modern menuntut masyarakat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhanya dan mencapai kesuksesan. Namun demikian, bekerja keras secara berlebihan juga memberi dampak tak baik bagi kesehatan maupun kehidupan sosial.

Fenomena itu juga bisa disebut dengan Hustle Culture. Kondisi ini tak hanya melanda Indonesia, tapi juga jamak terjadi di belahan dunia. 

Hustle culture, tanpa disadari sebenarnya kita sudah masuk dalam budaya negatif yang membuat seseorang seolah lupa pada kehidupan pribadinya, hanya karena kecanduan bekerja.

Pengertian

Shutterstock/G-Stock Studio
Shutterstock/G-Stock Studio

Mengutip dari Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture diartikan sebagai standar di masyarakat yang menganggap bahwa seseorang hanya bisa mencapai sukses kalau benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaan dan bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan di atas segalanya.

Seorang yang hidup dengan hustle culture memiliki energi besar untuk bekerja demi imbalan yang didapat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu, karir juga sering menjadi penyebab seseorang terjebak dalam budaya buruk ini yang cepat atau lambat akan berdampak pada kesehatan pekerja, baik fisik maupun mental.

Mengutip accurate.id, fenomena hustle culture pertama kali ditemukan pada 1971 dan menyebar cepat di kalangan milenial. Istilah ini juga dikenal dengan workaholism dan mereka yang menerapkan budaya ini disebut workaholic.

Waktu kerja

Piqsels
Piqsels

Berdasarkan survei pada laman The Finery Report, Hustle Culture ditemukan pada 83,8 persen responden yang anggap kerja lembur sebagai sesuatu yang normal. Bahkan, sebanyak 69,6 persen mengaku bekerja rutin di akhir pekan dan 60,8 persen merasa bersalah jika tak menambah jam kerja. Dalam seminggu, para responden bisa menghabiskan waktu kerja rata-rata 100 jam per minggu.

Padahal, di Indonesia, jam kerja yang diatur pemerintah dalam UU Nomor 21/2020 dan Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 2021 hanya 40 jam per minggu. Sayangnya, seiring perkembangan zaman, terutama di masa pandemi yang mengizinkan pekerja bekerja dari mana saja, justru banyak ditemukan pekerja yang malah bekerja lebih dari 40 jam dalam seminggu.

Studi yang dirilis oleh Pencavel pada tahun 2014, menemukan hubungan nonlinier antara jam kerja dan produktivitas. Artinya, jika jam kerja di bawah ambang batas 48 jam maka hasilnya sebanding dengan jam kerja tersebut. Namun, jika jam kerja di atas ambang batas itu, maka hasilnya justru menurun seiring bertambahnya jam.

Ciri-ciri

ilustrasi pegawai kantor (unsplash.com/Desola Sector 6)
ilustrasi pegawai kantor (unsplash.com/Desola Sector 6)

Lebih dari sebuah pengorbanan, hustle culture sudah bisa didefinisikan sebagai delusi. Hal ini dikarenakan pekerja yang terjebak fenomena ini seringkali tak menyadari bahwa budaya ini sudah tertanam dan dianggap biasa dilakukan sehari-hari.

Mengutip laman BFI Finance, berikut ini adalah ciri-ciri seorang pekerja yang terjebak dalam hustle culture: selalu memikirkan kerja dan tidak punya waktu santai; merasa bersalah ketika istriahat; memiliki target yang tidak realistis; sering mengalami kelelahan bekerja (burnout); dan tidak pernah puas dengan hasil kerja.

Penyebab

Pekerja Kantoran Saat Jam Makan Siang di Canary Wharf, London. Shutterstock/Viiviien
Pekerja Kantoran Saat Jam Makan Siang di Canary Wharf, London. Shutterstock/Viiviien

Ada beberapa penyebab terjadinya hustle culture, seperti dilansir dari Glints.com, di antaranya adalah:

  1. Toxic positivity
    Ini adalah paham yang menyebutkan bahwa tak peduli sesulit apa pun keadaan, kita harus tetap bersikap positif. Seperti tidak ada yang salah, namun hal ini membuat orang-orang memaksakan diri untuk selalu menahan emosi negatif. Padahal, emosi negatif seharusnya diterima agar lebih mudah untuk diatasi ke depannya.
  2. Tidak mengenal diri sendiri
    Biasanya mereka yang terjebak hustle culture memiliki kesulitan dalam mengenal diri sendiri, termasuk tujuan dari apapun yang dijalani dalam hidup. Akhirnya, standar kesuksesan orang lain yang jadi acuan, sehingga tanpa disadari membuat diri terpacu untuk mengikutinya. Padahal, belum tentu hal tersebut cocok dengan karakter diri kita.
  3. Perkembangan teknologi
    Seharusnya teknologi membantu memudahkan pekerjaan, namun hal ini justru menimbulkan peluang seseorang bekerja tanpa batasan waktu. Mereka bisa kerja dimanapun dan dalam kondisi apapun. Padahal, kondisi fisik dan mental belum tentu sanggup melewatinya.
  4. Standar sosial masyarakat
    Penyebab terakhir ini sebenarnya sudah lama terjadi di masyarakat yang berasumsi bahwa pekerjaan membuat orang makin sukses. Biasanya, masyarakat dalam pola pikir ini meanggap jabatan, uang, harta, dan sejenisnya sebagai standar definisi sukses.

Cara menghindari

Ilustrasi Work form Everywhere. (Shutterstock/PhotoSunnyDay)
Ilustrasi Work form Everywhere. (Shutterstock/PhotoSunnyDay)

Untuk menghindari Hustle Culture, berikut beberapa hal yang bisa Anda lakukan mengutip Accurate.id :

  1. Ubah mindset tentang pekerjaan
    Kita bekerja untuk hidup dan bukan hidup untuk bekerja. Sebab, masih ada banyak hal lain di luar pekerjaan yang harus mendapatkan perhatian besar dari diri kita, seperti keluarga, cinta, istirahat, kesehatan, dan banyak lainnya.
  2. Selesaikan pekerjaan tepat waktu
    Hal ini berkaitan dengan pengaturan waktu yang baik. Bekerjalah pada waktunya bekerja dan istirahatkan pada waktunya istirahat. Hal ini harus didisiplinkan dan perlu diingat bahwa waktu istirahat dan bersantai sangat penting, demi kinerja yang baik.
  3. Berhenti membandingkan diri
    Konstruksi sosial yang terbentuk di sekitar kita menjadi salah satu penyebab hustle culture terjadi. Oleh sebab itu, cobalah untuk selalu bersyukur atas pencapaian yang diraih. Berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain, sebab hal ini membuat kita terus merasa kurang.
  4. Luangkan waktu untuk bersantai
    24 jam dalam sehari tak boleh dihabiskan sepenuhnya untuk bekerja. Seperti mesin, tubuh juga perlu beristirahat dan mendapatkan perawatan, baik fisik maupun mental. Waktu libur sangatlah berarti dan sebaiknya digunakan sebagaimana mestinya. Bila kita bekerja di pekerjaan yang cukup mengganggu saat libur, mungkin telepon bisa dimatikan sementara saat libur.
  5. Mengutamakan kesehatan
    Apalah arti pekerjaan dan karir bila tidak bisa dijalani karena kondisi tubuh dan mental sakit? Oleh karena itu, kesehatan adalah aset yang sangat berharga dan harus terus diutamakan. Bekerjalah sewajarnya dan berikan diri waktu untuk berisitirahat.

Pekerja yang terjebak dalam hustle culture percaya bahwa bekerja tanpa henti akan mendukung pencapaian kesuksesan. Namun, hal ini tidak selalu bisa dianggap benar. Nyatanya, dalam kondisi mental dan fisik yang kelelahan karena pekerjaan, tugas-tugas justru tak bisa selesai dengan baik.

Share Article
Topics
Editorial Team
Riyo
Bayu Satito
3+
Riyo
EditorRiyo
Ekarina .
EditorEkarina .

Related Articles

See More

Mendag Ungkap Platform Belum Beri Keputusan Biaya Layanan Marketplace

26 Mei 2026, 17:19 WIBNews