Jakarta, FORTUNE - Serangan intensif Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran memicu kekhawatiran gangguan ekonomi, termasuk mengenai pasokan minyak global yang berujung pada lonjakan harga minyak dunia.
Merujuk data Trading Economics, serangan AS-Israel terhadap Iran melambungkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebesar 10 persen dan menembus level di atas US$75 per barel. Pada saat yang sama, harga minyak mentah Brent naik lebih tajam, sekitar 12 persen, saat pembukaan perdagangan Senin, hingga melampaui US$78 per barel.
Lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis di Iran yang menangani sekitar seperlima pengiriman minyak global serta volume signifikan gas alam.
Menurut Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga dunia sekaligus memiliki pengaruh krusial atas salah satu rute pelayaran paling vital bagi distribusi minyak mentah ke berbagai negara. Sehingga gangguan terhadap jalur ini berpotensi berdampak luas pada pasar internasional.
Diketahui, beberapa jam setelah serangan AS-Israel pada Sabtu, Teheran mulai mengambil langkah tegas dan memperingatkan kapal-kapal tanker untuk melintasi Selat Hormuz, sebagaimana dikutip dari The Guardian.
Data dari situs pelacakan maritim memperlihatkan penumpukan kapal tanker di kedua sisi selat. Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran akan serangan lanjutan maupun kesulitan memperoleh perlindungan asuransi pelayaran di wilayah berisiko tinggi.
Organisasi Maritim Internasional mendesak kapal-kapal untuk menghindari Selat Hormuz. Sekretaris Jenderal organisasi tersebut, Arsenio Dominguez, menyampaikan keprihatinan mendalam atas laporan adanya pelaut yang terluka akibat serangan.
"Saya mendesak semua perusahaan pelayaran untuk berhati-hati semaksimal mungkin. Jika memungkinkan, kapal harus menghindari melintasi wilayah yang terdampak sampai kondisi membaik," demikian, dikutip dari The Guardian, Senin (2/3).
Langkah serupa diambil oleh Maersk, yang pada Minggu mengumumkan penghentian sementara pelayaran melalui Selat Hormuz dan Terusan Suez dengan alasan keamanan. Kedua jalur tersebut merupakan arteri penting bagi perdagangan dan perekonomian global.
Di sisi lain, OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi minyak secara moderat sebesar 206.000 barel per hari mulai April. Namun ketegangan di Timur Tengah membuat distribusi minyak rentan terganggu dan harga berpotensi terus meningkat.
Serangan militer AS dan Israel terhadap Iran tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. CNN mengabarkan, Donald Trump menyatakan konflik berpotensi berlangsung hingga empat pekan ke depan, dengan serangan akan terus dilakukan sampai tujuan Amerika Serikat tercapai.
Sejumlah analis industri memperingatkan bahwa eskalasi konflik terus berlangsung, aksi mogok yang melumpuhkan produksi minyak, atau penutupan berkepanjangan jalur pengiriman utama, dapat mendorong harga minyak melonjak hingga US$100 per barel atau bahkan lebih tinggi.
