Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Konflik Geopolitik Tekan Ekspor Perhiasan ke Dubai
ilustrasi perhiasan (pexels.com/Elias Jara)
  • Pelaku industri perhiasan menyoroti tekanan geopolitik global dan fluktuasi harga emas yang menghambat ekspor ke Dubai, salah satu pasar utama perhiasan Indonesia.
  • Eddy Yahya menyebut prospek jangka menengah tetap positif karena budaya investasi emas di Indonesia menjadi penopang kuat permintaan domestik meski ekspor tertekan.
  • Pemerintah berkomitmen memperkuat ekosistem emas nasional dari hulu hingga hilir melalui sinergi dengan industri serta penyempurnaan kebijakan perpajakan dan struktur pasar domestik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Pelaku industri perhiasan nasional menyoroti konflik geopolitik global yang mulai berdampak pada kinerja ekspor, khususnya ke pasar Dubai sebagai salah satu tujuan utama. Ketidakpastian global, ditambah volatilitas harga emas, dinilai berdampak negatif terhadap arus perdagangan internasional.

Direktur PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) sekaligus Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI), Eddy Yahya, mengatakan dinamika tersebut tercermin dari terhambatnya ekspor ke Dubai dalam beberapa waktu terakhir.

“Tekanan geopolitik global turut memengaruhi perdagangan, termasuk ekspor perhiasan ke Dubai,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (7/4).

Meski menghadapi tekanan eksternal, pelaku industri masih memandang prospek jangka menengah secara positif. Eddy menilai permintaan perhiasan berpotensi kembali menguat seiring normalisasi kondisi pasar global.

Ia juga menyoroti kuatnya budaya menabung dan berinvestasi emas di Indonesia sebagai faktor penopang permintaan domestik. “Budaya investasi emas di Indonesia telah mengakar kuat, serupa dengan India,” katanya.

Di sisi lain, pelaku industri menekankan pentingnya penguatan sisi pasokan dalam negeri. Pengembangan kegiatan usaha bullion dinilai krusial untuk menjamin ketersediaan bahan baku emas yang lebih efisien dan kompetitif bagi industri perhiasan nasional. “Kami berharap kegiatan usaha bulion dapat mendukung ketersediaan bahan baku emas yang lebih efisien,” ujar Eddy.

Sementara itu, pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ekosistem emas nasional secara terintegrasi, dari hulu hingga hilir. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan BUMN, Ferry Irawan menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci untuk menjaga daya saing sektor ini di tengah tekanan global.

“Pemerintah akan terus mengonsolidasikan kesinambungan hulu hingga hilir agar daya saing ekosistem emas nasional dapat meningkat,” kata Ferry.

Selain itu, pelaku industri juga mengapresiasi sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk penerapan bea keluar emas yang dinilai mendukung penguatan industri dalam negeri. Meski demikian, pelaku industri mendorong penyempurnaan kebijakan, khususnya di bidang perpajakan dan struktur pasar emas domestik, guna meningkatkan efisiensi dan daya saing industri secara berkelanjutan.

Editorial Team