Sejumlah studi menyimpulkan gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa pada Juni 2026 diperparah oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Salah satu pemicunya adalah terbentuk sistem tekanan udara tinggi (high-pressure system) yang bertahan selama beberapa minggu di atas Eropa Barat, sehingga memerangkap udara panas di permukaan.
Fenomena tersebut dikenal sebagai heat dome atau kubah panas. Kondisi ini terjadi ketika tekanan udara tinggi menghalangi sirkulasi atmosfer sehingga udara panas terus terperangkap di lapisan bawah atmosfer.
Akibatnya, suhu siang hari di sejumlah wilayah melampaui 40 derajat Celcius, sementara suhu malam tetap tinggi sehingga tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan diri.
Para ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) menyatakan pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer selama puluhan tahun. Pemanasan global yang ditimbulkan membuat gelombang panas lebih sering terjadi, lebih intens, dan lebih lama dibandingkan beberapa dekade lalu.
Menurut analisis WWA, gelombang panas dengan intensitas seperti yang terjadi pada Juni 2026 hampir mustahil terjadi jika kondisi iklim masih seperti 50 tahun lalu. Studi tersebut juga menunjukkan suhu siang hari pada peristiwa serupa kini sekitar 3,5 derajat Celcius lebih tinggi dibandingkan gelombang panas pada 1976.