PT PLN (Persero) menyalurkan alat deteksi dini risiko kehamilan berbasis teknologi ke Kabupaten Garut, Jawa Barat, sebagai bagian dari upaya mendukung penurunan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia. (dok. PLN)
Preeklamsia dan eklamsia menjadi salah satu penyebab utama kematian ibu dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus. Karena itu, distribusi alat deteksi dini berbasis teknologi dinilai krusial untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Agus Dinar, menyambut positif dukungan PLN tersebut, khususnya untuk operasional di Puskesmas Cikelet.
"Jadi sekali lagi terima kasih sudah men-support-kan alat kepada kami. Tentunya alat ini akan kami gunakan baik itu di puskesmas itu sendiri, juga kami akan gunakan untuk mobile kunjungan dari rumah ke rumah. Mudah-mudahan alat ini tentunya akan menjadi support peningkatan optimisasi pelayanan screening preeklamsia di Kabupaten Garut," kata Agus.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa program ini mencerminkan komitmen perusahaan untuk hadir tidak hanya sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai enabler peningkatan kualitas hidup masyarakat.
“Kami hadir di tengah masyarakat tidak hanya melalui layanan kelistrikan, tetapi juga melalui program-program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Salah satunya dengan mendorong peningkatan kualitas hidup, khususnya bagi ibu hamil, melalui akses terhadap layanan kesehatan yang lebih merata dan berbasis teknologi," tutur Darmawan.
Sementara itu, Direktur Utama PLN Electricity Services sekaligus Wakil Ketua Umum Srikandi PLN, Susiana Mutia, menambahkan bahwa inisiatif ini juga selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 terkait kesehatan dan kesejahteraan. Ia juga menyoroti relevansi momentum Hari Kartini sebagai pengingat pentingnya perlindungan kesehatan perempuan, termasuk dalam masa kehamilan.
“Kami mendorong lahirnya generasi penerus bangsa yang sehat melalui dukungan bagi perempuan, khususnya ibu hamil. Deteksi dini risiko kehamilan di layanan kesehatan dasar diharapkan memungkinkan penanganan yang lebih cepat dan tepat sasaran,” pungkas Susiana. (WEB)