Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

RI Butuh Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen Buat Jadi High Income Country

RI Butuh Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen Buat Jadi High Income Country
Ilustrasi pekerja di di industri manufaktur/Shutterstock/Gorodenkoff
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Tenaga Ahli Menter Keuangan Bidang Industri dan Perdagangan Internasional, Kiki Verico, mengatakan Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi sampai 7 persen setiap tahun untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi.

Apabila target itu tercapai, maka Indonesia hanya membutuhkan waktu 15 tahun untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi.

“Kalau kita tumbuh terus-terus lima persen itu kita butuh 25 tahun untuk sampai high income country di 2042,” kata dia dalam sebuah diskusi virtual, Senin (7/8).

Saat ini Indonesia merupakan upper middle income country atau negara berpenghasilan menengah ke atas.

Untuk menuju negara maju, momentum bonus demografi, kata Kiki, perlu dimanfaatkan dengan baik. Pasalnya, pada 2037 Indonesia akan mengalami penurunan usia produktif. Dengan begitu, perlu dilakukan percepatan untuk mencapai negara berpenghasilan tinggi.

Negara lain yang telah berhasil menjadi negara berpenghasilan tinggi seperti Cina, Jepang dan Korea kompak memanfaatkan sektor manufaktur. 

“Indonesia perlu melakukan tranformasi besar-besar agar pertumbuhan manufaktur dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi,” kata Kiki.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian kuartal II-2023 tumbuh 5,17 persen. Sektor industri pengolahan atau manufaktur menjadi penyumbang terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2023 dengan 0,98 persen.

Dorong penguatan sektor manufaktur

Berdasarkan hitungan Kiki, sektor manufaktur perlu tumbuh 1,5 kali untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 7 persen.

Dia pun mengungkapkan industri manufaktur Indonesia harus bisa masuk ke dalam global value chain.  Ini jadi kunci mendorong pertumbuhan dalam negeri, mengingat saat ini Cina telah berhasil dengan cara demikian.

“Ini akan memberikan dampak berantai, mulai dari mendorong transformasi ekonomii, dan meningkatkan produktivitas, dan menciptakan konvergensi di dalam ekonomi dan mendorong network secara global,” ujarnya.

Cara mentransformasi sektor manufaktur

Untuk membangun industri manufaktur berdaya saing global, kata Kiki, Indonesia harus memperbaiki kualitas sumber daya manusia (SDM). Sebab, SDM manufaktur Indonesia masih didominasi oleh unskilled labor,  yakni 90 persen. Baru 0,85 persen saja yang mempunyai kemampuan mumpuni. “Artinya skill SDM manufaktur harus ditingkatkan,” kata Kiki.

Kedua, membangun ekonomi yang inklusif. Kiki mengatakan perlu menciptakan akses dan kesempatan yang luas bagi seluruh lapisan masyarakat. Tak hanya investasi yang besar, melainkan yang pengusaha skala kecil juga perlu diperhatikan.

Kemudian, Indonesia harus menjadi manufkatur global. Salah satunya dengan menjadi pemain dalam industri kendaraan listrik, dari hulu ke hilir.

Terakhir, industri manufaktur Indonesia juga harus ramah lingkungan. Sebab, tren saat ini pasar global hanya menerima hasil produksi yang tidak merusak alam dan sekitarnya. “Percuma udah produksi kalau produknya enggak green, jadi harus pro-lingkungan,” kata Kiki.

Share Article
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
Eko Wahyudi
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More

Prabowo Salurkan 1.098 Sapi Kurban, Anggaran Rp100 M dari APBN

26 Mei 2026, 21:21 WIBNews