Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Kepastian Kebijakan Jadi Sorotan
Logo S&P. (Dok. S&P)
  • S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil, menandakan kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional meski ada catatan soal kepastian arah kebijakan.
  • Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan tekanan seperti defisit perdagangan US$1,61 miliar, PMI manufaktur turun ke 46,9, dan inflasi naik menjadi 3,34 persen pada pertengahan 2026.
  • Ekonom menilai keputusan S&P harus dibaca bersama kondisi ekonomi yang melemah; pemerintah diminta menjaga konsistensi dan prediktabilitas kebijakan agar keyakinan pasar tetap terjaga.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Keputusan S&P Global Ratings untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia dengan prospek stabil mencerminkan kepercayaan terhadap ketahanan fundamental ekonomi nasional. Di tengah tekanan pada neraca perdagangan dan sektor manufaktur, pertumbuhan ekonomi yang tetap solid serta cadangan devisa yang kuat menunjukkan fondasi makroekonomi yang masih kokoh, memberi ruang bagi pemerintah memperkuat konsistensi kebijakan ke depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit (sovereign credit rating) Indonesia pada level BBB untuk utang jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan prospek (outlook) stabil.

Meski menjadi sinyal kepercayaan terhadap fundamental ekonomi nasional, lembaga pemeringkat tersebut juga mengingatkan efektivitas berbagai kebijakan pemerintah akan sangat ditentukan oleh kepastian arah kebijakan dan konsistensi pelaksanaannya.

Dalam laporan yang dirilis Senin (13/7), S&P menilai kebijakan pemerintah mendorong penerimaan negara maupun ekspor akan memberikan dampak lebih optimal jika arah kebijakan lebih mudah diprediksi dan implementasinya berjalan konsisten.

Afirmasi peringkat itu hadir di tengah sejumlah indikator ekonomi yang mulai menunjukkan tekanan.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit US$1,61 miliar, yang menjadi defisit bulanan pertama sejak April 2020.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur juga melemah, sebagaimana tecermin pada Purchasing Managers' Index (PMI) yang turun ke level 46,9 pada Juni 2026 atau berada pada zona kontraksi.

Inflasi tahunan pun meningkat menjadi 3,34 persen.

Meski demikian, sejumlah indikator fundamental masih menunjukkan ketahanan ekonomi domestik. Perekonomian Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada kuartal I-2026. Sementara, cadangan devisa pada Juni mencapai US$145,6 miliar, setara pembiayaan 5,5 bulan impor.

Tingkat inflasi juga masih berada pada rentang sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 persen ±1 persen.

Research Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti), Adhi Nugroho Saputro, mengatakan keputusan S&P mempertahankan peringkat Indonesia perlu dibaca secara utuh bersama berbagai indikator ekonomi yang tengah melemah.

"Peringkat yang dipertahankan tidak berarti persoalan selesai dan indikator yang melemah tidak otomatis berarti krisis. Yang kita hadapi adalah kombinasi keduanya. Publik perlu terbiasa membaca angka secara utuh, karena dari pembacaan yang utuh itulah respons kebijakan yang tepat bisa lahir," kata Adhi dalam keterangannya, Rabu (15/7).

Menurutnya, catatan yang disampaikan S&P justru menunjukkan pekerjaan rumah pemerintah ke depan bukan hanya merancang kebijakan yang tepat, tetapi juga memastikan arah kebijakan dapat diprediksi oleh pelaku usaha dan investor.

"Catatan S&P cukup terbuka. Yang menentukan bukan hanya isi kebijakannya, melainkan seberapa bisa diprediksi arahnya dan seberapa konsisten pelaksanaannya. Ini pekerjaan yang bisa dikerjakan, dan hasilnya akan cepat terbaca oleh pasar," katanya.

PMI manufaktur jadi sorotan

Adhi juga menyoroti kontraksi PMI manufaktur Indonesia yang dinilainya lebih dalam dibandingkan dengan sejumlah negara lain yang sektor industrinya masih berada pada zona ekspansi.

Menurut dia, pelemahan tersebut tidak semata-mata dipicu perlambatan ekonomi global, melainkan juga dipengaruhi menurunnya keyakinan dunia usaha terhadap kepastian arah kebijakan di dalam negeri.

"Tekanan global memang nyata, tapi penurunan di dalam negeri lebih banyak dipengaruhi hilangnya keyakinan atas arah dan kepastian kebijakan. Yang ditunggu pasar adalah koherensi dan konsistensi kebijakan, transparansi fiskal, dan komunikasi kebijakan yang lebih baik," ujar Adhi.

Curated For You

Editorial Team

Related Article