Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Selat Hormuz Tutup, Harga Minyak Diproyeksi Bisa US$150 dan Ancam APBN
Tambang minyak dunia. (Pixabay/Matryx)
  • Harga bisa naik ke kisaran US$100–150 dolar AS per barel.

  • DBS memprediksi lonjakan harga minyak dapat meningkatkan inflasi global, menekan daya beli, dan bahkan memicu risiko resesi serta perubahan kebijakan moneter Fed.

  • Kenaikan harga minyak juga menjadi ujian bagi ketahanan fiskal Indonesia.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Gejolak geopolitik di Timur Tengah mencapai titik kritis usai Iran dilaporkan menutup akses Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan energi. Hal ini berisiko memicu efek domino yang menekan perekonomian global, sekaligus menguji ketahanan fiskal serta stabilitas inflasi Indonesia.

Dalam laporan bertajuk Market Pulse 2026, DBS menyoroti bahwa dampak ekstrem dari penutupan selat strategis tersebut berpeluang melambungkan harga minyak mentah global ke kisaran US$100 hingga US$150 per barel.

Wilayah perairan ini sangat penting karena melayani lalu lintas seperlima perdagangan minyak mentah dan Liquefied Natural Gas (LNG) dunia. Tingkat keparahan juga dipicu oleh posisi Iran yang berkontribusi sekitar 3 persen terhadap total pasokan minyak global dan berstatus sebagai produsen terbesar keempat di OPEC.

“Peningkatan inflasi yang tajam mungkin akan mendorong The Fed untuk mengubah kebijakan moneternya,” kata Chief Economist DBS Group, Taimur Baig, melalui keterangan resminya, dikutip Selasa (3/3).

Taimur menambahkan, lonjakan harga emas hitam ini berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperlambat aktivitas perekonomian global, yang bermuara pada peningkatan risiko resesi. Mengingat kondisi tersebut, tim ekonom DBS memproyeksikan tingkat inflasi Indonesia dapat meroket hingga 4,1 persen pada awal Maret 2026.

Tekanan di pasar energi telah terlihat secara riil. Pada perdagangan Senin (2/3), harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 7 persen menjadi US$78,25 per barel, sementara minyak acuan AS (WTI) naik 7,3 persen ke posisi US$71,93 per barel.

Kondisi global yang memanas ini menjadi alarm bagi perekonomian domestik. Prasasti Center for Policy Studies memandang situasi tersebut sebagai momentum penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali keseimbangan antara stabilitas harga, keberlanjutan fiskal, dan daya tahan ekonomi nasional.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai tren kenaikan harga minyak global akan menghadirkan tekanan yang nyaris tak terhindarkan terhadap penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

“Dalam situasi harga minyak naik, tekanan terhadap harga BBM domestik tentu meningkat. Jika pemerintah menahan kenaikan melalui subsidi, maka konsekuensinya ada pada peningkatan beban fiskal. Sebaliknya, jika dilepas maka tekanan terhadap inflasi bisa menjadi lebih kuat,” kata Piter.

Dilema ini diperparah oleh defisit struktural sektor energi nasional. Saat ini, konsumsi minyak dalam negeri mencapai hampir 1,5 juta barel per hari, sedangkan kapasitas produksi lokal belum mampu memenuhi setengah dari kebutuhan tersebut. Ketergantungan impor yang tinggi membuat Indonesia sangat rentan terhadap kejutan harga minyak dunia dan fluktuasi nilai tukar dolar AS.

Sebagai perbandingan, asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) dalam RAPBN 2026 dipatok US$70 per barel. Angka ini disusun berdasarkan rentang outlook 2025 yang berkisar US$68-82 per barel—jauh di bawah skenario terburuk yang kini membayangi pasar.

Editorial Team