Jakarta, FORTUNE - Serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi memangkas kapasitas produksi dan jalur distribusi minyak negara tersebut hingga sekitar 1,3 juta barel per hari. Peristiwa ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan global. Gangguan tersebut berasal dari serangan yang menyasar fasilitas produksi, kilang, serta pipa utama East-West yang selama ini menjadi jalur ekspor penting di tengah ketegangan kawasan.
Mengutip laporan Reuters, sumber di Kementerian Energi Arab Saudi menyebut serangan tersebut mengurangi kapasitas produksi minyak sekitar 600.000 barel per hari dan memangkas aliran pipa East-West sekitar 700.000 barel per hari. “Serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi telah memangkas kapasitas produksi minyak kerajaan sekitar 600.000 barel per hari dan throughput pada Pipa East-West sekitar 700.000 barel per hari,” demikian diungkap Kementerian Energi Arab Saudi
Serangan itu juga mengganggu operasi di sejumlah fasilitas minyak, gas, petrokimia, dan listrik di Riyadh, Provinsi Timur, serta Kota Industri Yanbu. Pipa East-West sendiri menjadi jalur ekspor krusial setelah pengiriman melalui Selat Hormuz terganggu akibat konflik yang berlangsung.
Analis Kpler, Matt Smith, menilai gangguan terhadap pipa tersebut berpotensi memperketat pasokan minyak global. “Pipa East-West mengalihkan begitu banyak minyak mentah Saudi yang tidak bisa keluar melalui Selat Hormuz. Setiap penurunan volume akan memperketat situasi. Ini bukan kabar baik bagi pasar,” ujarnya.
Serangan juga menghantam stasiun pompa pada pipa East-West yang mengurangi aliran sekitar 700.000 barel per hari. Selain itu, ladang minyak Manifa terdampak sehingga kapasitas produksi turun sekitar 300.000 barel per hari, sementara serangan sebelumnya di fasilitas Khurais memangkas tambahan 300.000 barel per hari. Dengan demikian, total penurunan kapasitas produksi mencapai sekitar 600.000 barel per hari.
Tak hanya produksi, sejumlah kilang utama turut terkena dampak, termasuk SATORP di Jubail, Ras Tanura, SAMREF di Yanbu, dan kilang Riyadh. Gangguan tersebut secara langsung memengaruhi ekspor produk olahan ke pasar global.
Laporan Gulf News menyebut Arab Saudi juga menghentikan sementara operasi di beberapa fasilitas energi utama setelah serangan tersebut. “Serangan terhadap fasilitas Manifa dan Khurais menyebabkan pemangkasan produksi sekitar 600.000 barel per hari, sementara serangan terhadap pipa East-West menyebabkan hilangnya 700.000 barel per hari,” kata sumber Kementerian Energi.
Serangan yang menyasar fasilitas vital di Riyadh, Provinsi Timur, dan Yanbu itu juga menimbulkan korban jiwa. Seorang warga negara Saudi yang bekerja di keamanan industri dilaporkan tewas, sementara tujuh lainnya mengalami luka-luka. Gangguan gabungan pada produksi dan distribusi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global, terlebih ketika jalur ekspor alternatif Saudi semakin terbatas di tengah konflik kawasan.
